Sunday, April 14, 2013

Tanjung Papuma, 2 siklus matahari

Sunday, April 14, 2013
liburan semester 6, 2012


Hari itu malam sabtu, malam panjang yang masih membuat galau apakah besok akan pergi atau tidak ke papuma. jangan tanyakan mengapa, karena alasan ini lebih ke arah pribadi ketimbang untuk komsumsi fans. oke, aku menyerah, akan ku beritaukan alasan-alasannya, sebenarnya ada beberapa alasan, tapi karena melihat, menganalisa dan mempertimbangkan, ternyata ada beberapa alasan yang memang benar-benar signifikan yang memungkinkan untuk dijadikan parameter sebagai alasan galau, yaitu; galau karena memikirkan rayuan terus-menerus dari para fans, galau karena memikirkan negara dan galau karena yang tertinggal didompet hanya sisa-sisa debu kamar yang sempat ku besihkan sore harinya. Sampai tidurpun, keadaan masih sama, masih dalam keadaan galau antara pergi atau tidak. ini sungguh menyiksa.

/* keesokan harinya
Setelah sholat shubuh dan mandi pun sudah, sebuah dorongan klasik yang bisa membuat bangun shubuh di awal waktu. Kami akan pergi, itu sudah pasti. ya, ya.. meskipun aku bukan penganut "psikologi ekonomi" dan memang aku belum pernah secara langsung membuktikan formulanya, ntah apakah teori itu beradarkan dhoruri(keniscayaan) atau teoritis, tapi tetap saja aku akan mengatakan ini "S(satisfied) = N(need) + C(cost)" intinya adalah biayamu itu habis hanya untuk memenuhi kepuasan pribadimu. 
Setelah menyiapkan keperluan. Kami berkumpul di basecamp, kostan teman-temanku. Biasanya kami melakukan perjalanan, menjelajahi malam waktu MABA, menikmati es tebu di depan bundaran ITS sehabis futsalan atau sepulang dari kampus, traktiran paksaan, main PS, menikmati kopi di manapun, di jembatan mer, di Madura, di pinggir suramadu. Biasanya kami melakukan itu semua sampai semester tua pun hanya dengan beranggotakan cowo’, betapa teman itu memang bisa mengalihkanmu dari lawan jenis, jangan kawatir, aku ga' homo, ini cuman sedikit komplikated. karena sering bepergian dan ngumpul bareng itulah, waktu semester 2 kami memberi julukan sendiri Belalang Tempur, sebuah sebutan yang tercetus dari seorang yang namanya sungguh puitis, laksana samudra. tapi kali ini mungkin adalah perjalanan yang istimewa. Teman-teman kami yang cewek meminta untuk ikut. hasil cuap-cuap oleh penggila wanita, Arista.

Rencananya, kami akan ke jember naik bis, motor akan dititipkan di terminal bungurasih. Jam 8-nan am kami berangkat dari basecamp. di bungurasihpun kami dengan mudah dapet bis ekonomi, tak perlu keroyokan atau semacamnya, karena kami memang sudah sangat lelah, kami sudah sangat lelah merasakan  pahitnya kehidupan ini,  rp 28.000/orang. Di dalam bis aku dan Atho' duduk bersebelahan dengan seorang mas yang asli dari jember dan sempat melakukan obrolan. Kami diberitahukan, jika ingin pergi ke papuma mendingan berhenti di Ambulu aja, disana adalah jarak terdekat ke papuma, +- 9 km dan disana juga tempat terahir dimana angkutan umum beroperasi. Sebelumnya kami juga sudah tau. Opsi pemberhentian kami sebenarnya ada dua, yang satu di hatimu atau pindah ke lain hati. ditemani secangkir kopi dan asap rokok di warung depan gg 1, kadang mengingatkanku, betapa sudah saatnya aku melanjutkan perjalanan ini, lihat bintang di langit itu. oke, oke. opsinya adalah di Ambulu dan satu lagi adalah di stasiun terminal bis tawang, kalau dari tawang, kami  berencana nyewa len. Tapi setelah bincang-bincang dengan masnya itu, kami memilih berhenti di Ambulu saja. Jadi sudah diputuskan, temanku yang berangkat dari probolinggo menggunakan sepeda motornya dan telah sampai duluan, panggil saja namanya lek tommy, kami hubungi agar mencarikan angkutan sewa, apapun terserah, yang lebih murah lebih bagus. Kira-kira berselang berapa jam kemudian, dia ngasih kabar; "kalau truk mau ga’?" Oke. Setuju. Di dalam bis itu kami menghabiskannya dengan tidur.
tepat sebelum ashar kami sampai di Ambulu, sambil menunggu ‘lek’ datang dengan truknya, kami menyeduh teh dan makan gorengan di warung, ada angin rindu yang menerpa wajah keren ini dengan lembut. BRUUUK!. ada kecelakaan di toko samping barat warung, ada kendaraan umum yang ntah kenapa menubruk toko tersebut, detailnya kami juga tidak tau, tiba-tiba saja ada bunyi keras dari arah barat. Untungnya ga’ ada korban jiwa.
tapi mungkinkah ini pertanda. waktu itu aku sempat melihat ke TKP, kemiringan tubrukannya itu membentuk sudut lancip dengan panjang toko, padahal kendaran itu tidak sedang menghindari apapun ketika di jalan, kalau dalam kecelakan biasa, tak mungkin akan membentuk sudut selancip itu, yang ada malah seharusnya posisi kendaran akan kelihatan seolah menghindari tubrukan, yaitu posisi truknya melengkung ke luar dari toko, bukan melengkung ke dalam seperti sekarang ini, apalagi saat ku lihat bekas  gesekan ban dengan aspal jalan, tak ada bekas ngerem dengan mendadak atau paksa, seolah-olah truknya itu memang dibelokkan dengan sengaja,  untuk menguatkan hipotesaku, aku sempat melakukan kontak dengan bapaknya. tidak ada gejala aneh, pupil matanya dalam keadaan normal. jadi, menurutku, ini adalah... oke, bercandanya sudah kelewatan.

Berselang berapa menit, Lek datang. Truknya memasang harga 300 rb, kami tawar menjadi 250 rb, antar-jemput. Jadi 25 rb/orang, lek masih tetap dengan motornya, arista ikut nebeng. Harga ini sudah termasuk murah, apalagi nanti kami tidak usah membayar tiket masuk ke papuma, yang tarifnya 7000/orang. Beruntung kan, lek membawa sewaan truk yang tepat. Tapi ketika menaikinya, aga’ kawatir, karena truknya kadang tiba-tiba ngadat, apalagi ketika ada tanjakan, aga’ pesimis kalau truknya bakal ngangkat.
Melalui belokan terahir bukit, masih dari atas bukit, kami langsung disuguhi pantai papuma yang eksotis. indah. Kami tiba kira-kira jam 4 an pm. Seturunnya dari transport, kami langsung menuju bagian papuma sebelah barat. Menikmati sunset, langit benar-benar cerah waktu itu. ini adalah salah satu pantai dan terindah yang pernah ku datangi. sunset yang sungguh indah, sunset yang sering ku hayalkan waktu masih kecil ketika memandangi gambar kalender di dinding kamar.


http://dewey.petra.ac.id/jiunkpe_dg_877.html
Seperti photo di samping, papuma itu pantai yang berbentuk tanjung yang menjorok ke laut. Namanya juga ‘tanjung’ papuma kan. Kau bisa menikmati sunset dari pantai sebelah baratnya(sebelah kanan tanjung) dan menikmati sunrise dari pantai sisi sebelahnya(sebelah kiri tanjung). Kau bisa sekaligus menikmati dua siklus matahari, sunrise dan sunset. Di sepanjang  pantai sebelah timur adalah tempat ditambatnya perahu-perahu pelaut, disisi itu juga terdapat para pedagang, bukanya hanya siang hari, ada musholla dan ada cottage juga yang disewakan, pokoknya semua tempat kehidupan ada di sepanjang pantai sisi yang timur itu. dibagian bawah photo itu adalah bukit, jadi untuk menuju papuma kalau dari darat, harus melalui bukit atau tebing. iya, tempat camping yang diperbolehkan juga hanya yang di sisi timur itu, katanya ada yang patroli kalau malam, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. tapi begitulah anak muda kawan dan begitu jugalah kami. hasrat untuk pengakuan diri lebih tinggi daripada kepintaran kami untuk mematuhi, peraturan, kesopanan, ketertiban, dll.

Setelah puas photo-photo dan matahari pun sudah terbenam. Kami pergi ke tempat persewaan tenda yang disediakan disitu, Aku tau ini juga dari internet, diweb-nya terpasang harga sewa tenda 35 rb/hr, lebih murah jika kami harus menyewa tenda dari surabaya. teknologi benar-benar memberi kemudahan. Tapi tenang, kehidupan memang tidak semulus itu. Setelah Aku dan Atho' sampai  di tempat persewaan, ternyata harganya 70 rb/ hari. Wow, teknologi sialan, sedikitpun tidak bisa dipercaya. 'berembuk dulu pak'. yup, kabur dulu. Setelah sholat, kami berembuk lagi dan memutuskan untuk nyewa satu tenda, untuk ceweknya saja, yang cowok bisa tidur di luar, untung saja waktu itu bukan musim hujan.


Untung saja(lagi) rencana nyewa itu gagal, teman kami yang berencana menyusul, arif dan rengga, membawa terepal dan tali secukupnya untuk membuat tenda survival, apalagi yang bisa lebih menyenangkan dari ini. Sebelumnya kami memang memberitaukan, bahwa rencana untuk nyewa tenda kemungkinan besar gagal. Mereka sungguh dewa penyelamat. Jadilah setelah maghrib itu sebagian dari kami ada yang memasak(khusus untuk ibi-ibu rumah tangga) dan sebagian lagi menyiapkan tenda. kalian pasti sudah menduganya kan dimana tempat camping ground kami, ya, disebelah timur tanjung, yaitu terletak pada koordinat,,, tanyakan pada yang tau peta.
kami memasak dengan menggunakan panci yang pernah dibawa ke sempu, meskipun bukan dengan kompor yang sama. lalu karena egy sang filosof selendro bereksperimen memasak dengan membuat tungku dari cerukan pasir, membuat panci kesayanganku itu berubah menjadi sangat hitam. hiks. Alas yang kami gunakan untuk tendapun adalah tikar yang kami bawa waktu ke sempu ditambah matras, satu paket dengan carrier yang ku bawa. Ditemani Langit cerah,  bulan-penuh terbit tepat ditengah-tengah laut, seperti di film kesayangannya Arista;  twilight, new moon. Romantis bagi yang berpasangan, tapi aku yang sendirian merasakan galau.  Malam itu kami habiskan dengan menyeduh kopi, menikmati hangatnya api unggun da berjalan-jalan di pantai. 
ada sedikit drama yang terselip pada ombak yang dengan pelan menggoyangkan perahu-perahu nelayan, pada pasir lembab yang ku injak. Saat kami berjalan-berjalan di pantai, aku memisahkan diri dari teman-teman.  kebutuhanku yang menyedihkan untuk berdiam sendirian tiba-tiba muncul.
Seperti semua ketidakjelasan(ketidakrasionalan) pada kisah drama, itu jugalah yang terjadi padaku, tak tau kenapa tiba-tiba saja ingin memikirkan negara, pada nilai rupiah yang katanya stabil padahal itu hanyalah kebohongan formula dan angka, pada persepsi yang dibengkokkan sedikit-sedikit hingga ahirnya diterima secara bersama, dompetku kosong itu salah siapa?! Juga pada masalah internasional tentang ramalan suku maya, aku tak berharap banyak bahwa ramalannya akan seperti yang di filmkan, karena aku sudah tau cerita sebenarnya seperti apa, ada seorang ‘teman’ yang datang dan menceritakannya, tapi untuk cerita itu akan ada bagiannya sendiri.
DUUUK!!! Aku membuat jatuh seseorang! aku tak sadar, aku tadi hanya berjalan melamun sepanjang pantai, ini jelas-jelas bukan salahku. Perempuan!? dia berdiri tanpa mempedulikan bantuanku, aku buru-buru menunduk sambil mengucapkan permintaan maaf, Tapi tak ada balasan, tak ada senyuman, bahkan tak ada perubahan apapun di aliran mukanya, seolah tak ada apa-apa. Ku coba tatap matanya. aku… kehidupan tiba-tiba menjadi penuh dengan cahaya yang berlebihan. Dirinya benar-benar bercahaya, tak tau apakah aku menikmatinya atau malah tersiksa dengan silaunya. Aku terasa begitu ringan, seolah menjadi asap dan kehilangan kesadaran selama sesaat. mungkin akan seperti itu kalau menuruti aturan di film-film, tapi yang terjadi padaku ternyata tidak. Yang ku rasakan hanyalah… ntahlah, jantungku berdetak cepat dan sangat keras, aku sempat kawatir bahwa dia akan mendengarnya.
 Lalu tanpa berkata sedikitpun dia pergi. WWHAATT!!!??? Dia benar-benar mengacuhkanku!! Benar-benar!!! Oke, fine. Pergilah. Apa susahnya sih menanyakan kabar(?), menanyakan nama atau sekedar mengobrol biasa layaknya anak muda yang sedang kasmaran, dan di ahir percakapan kau bolehlah nanti minta akun atau no. hpku, lalu dengan seolah-olah tak mau aku akan menawari diri untuk mengantarmu balik.
Aku tak tau. aku ingin marah, tapi tak bisa. Ada sensasi rasa yang aneh saat melihatnya menjauh, Ada rasa gelisah yang menyergap dadaku begitu kuat, rasa kehilangan, rasa rindu yang yang ditolak kuat-kuat oleh akal sehatku, aku bahkan tak melihat wajahnya dengan jelas. Dengan bulan penuh yang menggantung pucat di langit pekat, aku merasakan bahwa malam ini adalah malam teromantis dalam hidupku. Tapi aku tak mau mengejarnya, yang bisa ku lakukan hanyalah tetap dengan murung menikmati cahaya bulan. Karena sebuah rencana untuk mengejarnya terdengar begitu vulgar, itu hanya akan merusak keindahan malam ini.

hahaha.. cerita tanpa drama itu kurang menarik kan, hanya bumbu penyedap.


Untuk jaga tenda, Shiftnya bergantian, mataku sudah ga’ kuat menahan kantuk, jam 12 an aku terlelap. Jam 3-an aku dibangunkan untuk berjaga. Singkat cerita pagi-pun menjelang, kami sama-sama menikmati sunrise. dengan jejeran perahunya yang ditambat, membuat sunrise di pantai itu lebih menawan. Langit sangat cerah.
sunrice di tanjung papuma

Setelah puas dengan photo-photo sunrise, tendapun sudah dibongkar, sarapan sudah masuk ke perut dan pakaian untuk berenang di laut telah dikenakan. kami beralih ke pantai sebelah barat,  mencari tempat yang lebih sepi dan luas. Selalu ada rasa tenang saat menikmati alam, menyusuri pantai yang putih dan panjang, dibeberapa tempat ada jejeran batu yang telah menghalus karena sering kena deburan air. Sebelum berenang, kami naik dulu ke atas Siti Hinggil.
pantai sebelah barat tanjung papuma


watu ulo

Setelah ombak semakin mengganas dan kami pun sudah puas bermain di pantai, setelah juga kami membersihkan diri di jedding per bayar, kami pun sudah siap untuk pulang, kira-kira jam 12 an. Kami tiba di Surabaya jam 8-nan pm.







Dimensi Tak Hingga © 2014