Saturday, July 27, 2013

Saturday, July 27, 2013
Human's life is so difficult, right?!
you don't have a right grasp to act
it's not feeling, nor mind
your knowledge become dust a moment you using it 
but, you must stand with your own feet
you are alone actually
just bear with it... that's life.

Thursday, June 20, 2013

Aku

Thursday, June 20, 2013
aku punya banyak wajah
seperti hatiku yang punya banyak warna
sesaat kau menyukaiku
sesaat itu pula kau akan membenciku

aku punya banyak bentuk
seperti milyaran neuron otakku
sesaat kau mempercayaiku
sesaat itu pula kau akan meragukanku

ada jalan yang hanya diketahui oleh orang sepertiku
bahwa hitam adalah warna mutlak kehidupan
bahwa gelap yang harus aku tau
jadi biarkanlah kalian terus bermimpi tentang terang

karena perputaran adalah aturannya
jangan pernah kawatir tentang keberadaanku

Sunday, May 19, 2013

Sunday, May 19, 2013

Air berjatuhan dari langit. pelan-pelan kemudian semakin cepat. Ntah sudah berapa kali aku melihat hujan. Ntah sudah berapa kali dinginnya mampu membuat tenang. Suara berjatuhannya  di atap rumah, aliran airnya di halaman, titik-titik airnya pada daun.

Aku tak ingat kapan tepatnya pertama kali melihat hujan (>,<), kapan pertama kali tetes airnya yang dingin menyentuh kulitku. tapi jika itu berbicara tentang hujan, maka ceritaku bersamanya kebanyakan adalah beberapa tahun yang lalu. Bukan cerita yang menarik sebenarnya, bukan. Ini hanyalah cerita anak kecil seperti umumnya dan jika berbicara tentang orang dewasa, ini hanyalah masalah kenangan yang sudah agak sedikit usang di rak memori bagian belakang yang kadang-kadang meminta untuk diceritakan, jadi ya, ini bukanlah cerita fairy tale, bukan cerita tentang pahlawan, bukan cerita tentang petualangan di liburan lebaran dan tentu bukan cerita percintaan. Hanya cerita anak kecil pada umumnya.

Pelan-pelan aliran udara membawa semuanya kembali, Tubuhku mengecil, halaman rumahkupun juga ikut berubah, tanaman-tanaman mengecil kemudian mencuat tanaman yang lebih besar, pecahan genteng merah berserakan di bawahnya pancuran saluran air atap rumah. semuanya kembali ke 17 thn yang lalu. Mungkin lebih ke belakang atau mungkin ke depan, ntahlah. Tanpa buang waktu Ku susuri jalan setapak yang biasanya waktu kecil ku lalui saat hujan, ku ambil tongkat yang tergeletak di jalan atau kalau di jalan tak ada, pohon yang masih hidup akan ku ambil rantingnya-yang lumayan lurus tentunya- dan ini alternative terahir, alternative yang biasanya sering ku hindari, mematahkan tanaman singkong di ladang orang. Kau pasti membayangkan aku mengambilnya sambil mengendap-ngendap, tapi tak seperti itu. Patahkan, bersihkan daun-daunnya, selesai. Sesimple itu. Ukuran tongkatnya tak boleh terlalu besar dan juga tak boleh terlalu kecil, ukuran sedang, ukuran yang mudah untuk ku ayunkan tapi membuatku puas saat ku hantamkan dan juga tidak membebani ketika ku bawa lari.

Hmm, Jangan tarik nafas dulu. Aku tak pergi untuk berkelahi. Tenanglah cinta(>,<). Dari segian banyak kegiatanku di waktu kecil saat hujan mengguyur, salah satunya adalah berkelahi dengan anak-anak kampung sebelah. Tak ada alasan khusus, Senang aja melihat darah mengalir di tengah-tengah hujan, bunyi langkah kaki kami yang menghempas genangan air di dijalan ketika berlari menyongsong lawan, teriakan lantang yang bersautan dengan Guntur atau kibasan rambut basahku yang panjangya tak seberapa waktu itu.

Ya, ya, area sudah di depan.bukan waktunya lagi untuk meragu. Aku bersama yang lain, kakak, sepupu-sepupuku dan teman ngajiku harus sudah siap. Masalah sebenarnya simple aja. Ayolah, tentu saja, anak kecil mana tau masalah rumit, seperti cinta segitiga misalnya(?). Jadi mari kita luruskan duduk permasalahannya dulu. Pertama yang perlu diketahui adalah hujan, HUJAN bagi kami anak kampong adalah sesuatu yang WOW. Seperti dapat uang pecahan ribuan waktu maulidan, ah bukan. Seperti melihat poop yang mengapung di sungai waktu kami berenang, tentu saja bukan. Atau mungkin seperti saat berhasil mencuri pandang pada mba’ cantik waktu kami ngaji, bukan juga. Pokoknya WOW, hujan itu adalah waktu yang sacral bagi kami, selain juga bahwa jika kau diperbolehkan hujan-hujanan oleh orang tuamu, itu adalah torehan prestasi yang gemilang, sangat membanggakan. Jadi keesokan harinya waktu di sekolah, kau bisa berceloteh apa saja yang kau lakukan waktu hujan, tanpa lupa dengan dada terangkat tentunya. Seperti itulah hujan bagi kami. Maka jika hujan turun, kami tak akan buang-buang waktu lagi, mengumpulkan teman-teman dan melakukan apa saja, apa saja. Main bola di ladang orang(yang masih belum di bajak) yang jika tiba-tiba ada kilat, kami akan sepakat langsung tengkurap, main glusutan(luncuran/licin-licinan(?)) di emperan rumah. Mencari burung-burung malang yang kedinginan, atau sekedar lari-larian ga’ jelas di jalan karena merasa sayang membuang dengan percuma torehan prestasi yang didapat. Dan yang terahir, kegiatan favorit selain main bola saat hujan adalah mengejar puyuh(*puyuh runner), bingung apa itu?! Ga’ heran, karena hanya suku terkerenlah yang melakukannya. Jadi gini, eh yang disitu, tolong frekuensi IQ nya dinaikkan dulu, agar kalian bisa menangkapnya. Karena kegiatan ini butuh penjelasan formula matematis yang rumit, butuh kedisiplinan tinggi dam jiwa seoarang kesatria. >,<.

Ini sebenarnya adalah taktik hidup mati(ngaco lagi). Simple saja. Didasarkan dari pengetahuan bahwa hewan-hewan pasti kedinginan waktu hujan, jadi mereka akan mencari tempat berteduh. Kalo hewan rumahan biasanya berteduhnya di emperan rumah, seperti ayam misal kalau ga segera di usir akan meninggalkan sisa makan paginya. Kalau hewan liar, biasanya akan mencari tempat yang benar-benar rimbun. Burung kalau hujannya benar-benar lebat akan mencari pohon yang pendek, karena mereka tidak kuat lagi terbang. Kalau puyuh akan mencari semak-semak. Disitulah kami para puyuh runner mengadukan nasib(>,<). Tongkat itu sebenarnya buat cari puyuh. kami hantamkan tongkat pada tiap rimbunan semak, atau kalau kurang meyakinkan, dilanjutkan dengan menyodok-nyodoknya, kalau kurang buruntung, mencari semak-semak yang lain dan melakukan hal yang sama, hantam-sodok-cari-hantam-sodok. Seperti itulah seterusnya.

Dan hari ini seperti biasa, hujan yang sacral seperti biasa. Pukulan kami mulai melemah pada semak-semak di ujung ladang, tapi tiba-tiba ada sekelabatan terbang melarikan diri

“PORO(puyuh)!!!” serentak kami semua berlari mengejar. Aneh sebenarnya, dengan kecepatan lari kami yang terkatung-katung-kadang masih harus terpleset oleh petakan ladang- mencoba mengejar tebangnya puyuh. Tapi ya lagi-lagi, anak kecil tidak butuh penjelasan rumit untuk melakukan sesuatu. Tidak butuh penjelasan tentang fisika-gerak bahwa ini presentase keberhasilannya sangat kecil. Tak butuh itu, untuk senang-senang itu saja, karena senang melakukannya, itu saja. Toh meskipun nanti tak ada puyuh yang kami dapatkan kami tak kecewa, karena kami sudah sangat bahagia. Atau misalkan nanti dapat puyuh, berarti ada dada yang lebih terangkat dari biasanya dan mulut yang sedikit berbusa ketika bercerita di sekolah esok harinya.

Kami masih terkatung-katung mengikuti, puyuh itu ga selalu terbang, jadi kurang lebih berjarak satu lading mereka akan mendarat, menysusup di antara tanaman dan mencoba bersembunyi, jika mereka merasa bahaya, akan terbang lagi mencari tempat baru, begitulah seterusnya, terbang mereka juga ga’ tinggi. Nafas kami mulai habis, sepertinya begitu juga yang di alami si puyuh, sepertinya ini presentase yang kecil itu. Aku yang oaling kecil, jadi aku sedikit tertinggal dibelakang, mata sudah berkunang-kunang.

“olle(dapat)!!!!” mendengarnya aku sangat senang, membayangkan bahwa teman-temanku besok disekolah akan menganga mendengar ceritaku ini. Tapi yang dapat ternyata bukan dari kelompokku, kelompok dari kampong sebelah ternyata. Salah satu teman kami sudah beradu mulut. Genggaman pada tongkat semakin ku eratkan….

http://www.topdesignmag.com/wp-content/uploads/2011/08/727.jpg

Bersambung dulu-lah…..

Saturday, May 11, 2013

Malming Jomblo

Saturday, May 11, 2013

Bagi kalian yang lebih suka melakukan aksi mungkin akan sedikit melirik pada kebahagian kami, tentang obrolan sopan dan penuh teori tentang sebuah asmara. Tentu saja, tak ada aksi, hanya teori yang merambat kemana-mana, berlarian kesana-kemari seperti bocah kecil baru melihat tempat baru, mengawang-ngawang kemudian terpekur disudut ruag tergelap. Ya, beginilah yang mengaku punya kekasih yang berada jauh disana  atau jomblo menghabiskan waktu malmingnya. Merindu kekasih yang entah ada dimana, menatap layar desktop computer sudah mulai agak jenuh, mau membuat puisi bulan tak juga muncul, jadilah otak dan jiwa kami yang membutuhkan gerimis mengais-mengais pada teori yang kami nikmati bersama atau teman kami yang berada di kamar sebelah yang menhabiskan malmingnya dengan mengejar setoran untuk design logo TM.

Pada satu waktu, temanku akan berkata
“dicintai itu adalah suatu keharusan” kalau aku artikan, maka maknanya akan seperti ini, karena keharusan itu adalah sesuatu yang mengekang. Dicntai itu adalah sebuah penjara. “kalau kita mencintai, itu adalah sebuah kebebasan”. Kalau kau mendengarkan langsung dari anaknya, kau mungkin bingung sebenarnya apa maksudnya, tapi begitulah dia, dengan kosa kata bahasa indo yang seadanya mencoba untuk berfilosofi… :v

Lalu aku timpali;
“kalau dalam buku art of loving” aku berhenti sejenak “kau tau kenapa banyak anak muda rela menyerahkan kehormatannya, seeorang rela mekakukan apa saja demi kekasihnya dan semacamnya, itu semua karena mereka hanya ingin dicintai, manusia modern ini memang menderita, menderita untuk dicinta, sehingga melakukan apa saja agar orang lain memperhatikannya, mencintainya. Tapi kalau kita mencintai, itu kita hanya memberi, bukan berharap untuk mendapatkan balasan”

Dia menjawab ”seperti itulah maksudku, kau membahasakannya dengan baik”.. ckakakakak, kami tertawa bersama.

selanjutnya teori kami berputar-putar pada cara untuk mendapatkan wanita, mencoba mengerti sebuah sikap wanita, yang rumitnya melebihi labirin yang tak berujung, bagaimana cara mencintai wanita. ntah ampuh apa tidak bukan masalah kami. Dan untuk masalah yang satu ini aku lebih banyak diam, aku tau kemampuanku sendiri, hiks. Dialah yang banyak bicara, mengaku keturunannya arjuna, dari tampang sok seriusnya yang didramatisir itu seolah membuat sebuah pengumuman, inilah duniaku kawan. Kalau ada ember di dekat situ, aku pasti sudah muntah.

Ya seperti itulah, waktu sudah beranjak semakin larut, Tapi sebelum ku tutup percakapan ini, perlu diperhatikan, percakapan kami bukan pada suasana yang penuh semangat seperti saat hakim menjatuhkan hukuman bagi pencuri ayam, seperti para anggota di gedung “putih” yang sangat semangat membahas jala-jalan atau seperti para mahasiswa yang ‘turun ke jalan’. Permbincangan yang kami lakukan adalah pada kondisi yang sangat tenang, seperti layaknya seorang plegmatis dan melankolis melakukan obrolan, pada kondisi dia mengoceh sambil menyelesaikan game chess ol-nya dan pada tempat dudukku di sandaran pintu yang tatapan senduku(hueks) sesekali melihat ke atas sambil menggaruk kepala.

Sunday, April 14, 2013

Tanjung Papuma, 2 siklus matahari

Sunday, April 14, 2013
liburan semester 6, 2012


Hari itu malam sabtu, malam panjang yang masih membuat galau apakah besok akan pergi atau tidak ke papuma. jangan tanyakan mengapa, karena alasan ini lebih ke arah pribadi ketimbang untuk komsumsi fans. oke, aku menyerah, akan ku beritaukan alasan-alasannya, sebenarnya ada beberapa alasan, tapi karena melihat, menganalisa dan mempertimbangkan, ternyata ada beberapa alasan yang memang benar-benar signifikan yang memungkinkan untuk dijadikan parameter sebagai alasan galau, yaitu; galau karena memikirkan rayuan terus-menerus dari para fans, galau karena memikirkan negara dan galau karena yang tertinggal didompet hanya sisa-sisa debu kamar yang sempat ku besihkan sore harinya. Sampai tidurpun, keadaan masih sama, masih dalam keadaan galau antara pergi atau tidak. ini sungguh menyiksa.

/* keesokan harinya
Setelah sholat shubuh dan mandi pun sudah, sebuah dorongan klasik yang bisa membuat bangun shubuh di awal waktu. Kami akan pergi, itu sudah pasti. ya, ya.. meskipun aku bukan penganut "psikologi ekonomi" dan memang aku belum pernah secara langsung membuktikan formulanya, ntah apakah teori itu beradarkan dhoruri(keniscayaan) atau teoritis, tapi tetap saja aku akan mengatakan ini "S(satisfied) = N(need) + C(cost)" intinya adalah biayamu itu habis hanya untuk memenuhi kepuasan pribadimu. 
Setelah menyiapkan keperluan. Kami berkumpul di basecamp, kostan teman-temanku. Biasanya kami melakukan perjalanan, menjelajahi malam waktu MABA, menikmati es tebu di depan bundaran ITS sehabis futsalan atau sepulang dari kampus, traktiran paksaan, main PS, menikmati kopi di manapun, di jembatan mer, di Madura, di pinggir suramadu. Biasanya kami melakukan itu semua sampai semester tua pun hanya dengan beranggotakan cowo’, betapa teman itu memang bisa mengalihkanmu dari lawan jenis, jangan kawatir, aku ga' homo, ini cuman sedikit komplikated. karena sering bepergian dan ngumpul bareng itulah, waktu semester 2 kami memberi julukan sendiri Belalang Tempur, sebuah sebutan yang tercetus dari seorang yang namanya sungguh puitis, laksana samudra. tapi kali ini mungkin adalah perjalanan yang istimewa. Teman-teman kami yang cewek meminta untuk ikut. hasil cuap-cuap oleh penggila wanita, Arista.

Rencananya, kami akan ke jember naik bis, motor akan dititipkan di terminal bungurasih. Jam 8-nan am kami berangkat dari basecamp. di bungurasihpun kami dengan mudah dapet bis ekonomi, tak perlu keroyokan atau semacamnya, karena kami memang sudah sangat lelah, kami sudah sangat lelah merasakan  pahitnya kehidupan ini,  rp 28.000/orang. Di dalam bis aku dan Atho' duduk bersebelahan dengan seorang mas yang asli dari jember dan sempat melakukan obrolan. Kami diberitahukan, jika ingin pergi ke papuma mendingan berhenti di Ambulu aja, disana adalah jarak terdekat ke papuma, +- 9 km dan disana juga tempat terahir dimana angkutan umum beroperasi. Sebelumnya kami juga sudah tau. Opsi pemberhentian kami sebenarnya ada dua, yang satu di hatimu atau pindah ke lain hati. ditemani secangkir kopi dan asap rokok di warung depan gg 1, kadang mengingatkanku, betapa sudah saatnya aku melanjutkan perjalanan ini, lihat bintang di langit itu. oke, oke. opsinya adalah di Ambulu dan satu lagi adalah di stasiun terminal bis tawang, kalau dari tawang, kami  berencana nyewa len. Tapi setelah bincang-bincang dengan masnya itu, kami memilih berhenti di Ambulu saja. Jadi sudah diputuskan, temanku yang berangkat dari probolinggo menggunakan sepeda motornya dan telah sampai duluan, panggil saja namanya lek tommy, kami hubungi agar mencarikan angkutan sewa, apapun terserah, yang lebih murah lebih bagus. Kira-kira berselang berapa jam kemudian, dia ngasih kabar; "kalau truk mau ga’?" Oke. Setuju. Di dalam bis itu kami menghabiskannya dengan tidur.
tepat sebelum ashar kami sampai di Ambulu, sambil menunggu ‘lek’ datang dengan truknya, kami menyeduh teh dan makan gorengan di warung, ada angin rindu yang menerpa wajah keren ini dengan lembut. BRUUUK!. ada kecelakaan di toko samping barat warung, ada kendaraan umum yang ntah kenapa menubruk toko tersebut, detailnya kami juga tidak tau, tiba-tiba saja ada bunyi keras dari arah barat. Untungnya ga’ ada korban jiwa.
tapi mungkinkah ini pertanda. waktu itu aku sempat melihat ke TKP, kemiringan tubrukannya itu membentuk sudut lancip dengan panjang toko, padahal kendaran itu tidak sedang menghindari apapun ketika di jalan, kalau dalam kecelakan biasa, tak mungkin akan membentuk sudut selancip itu, yang ada malah seharusnya posisi kendaran akan kelihatan seolah menghindari tubrukan, yaitu posisi truknya melengkung ke luar dari toko, bukan melengkung ke dalam seperti sekarang ini, apalagi saat ku lihat bekas  gesekan ban dengan aspal jalan, tak ada bekas ngerem dengan mendadak atau paksa, seolah-olah truknya itu memang dibelokkan dengan sengaja,  untuk menguatkan hipotesaku, aku sempat melakukan kontak dengan bapaknya. tidak ada gejala aneh, pupil matanya dalam keadaan normal. jadi, menurutku, ini adalah... oke, bercandanya sudah kelewatan.

Berselang berapa menit, Lek datang. Truknya memasang harga 300 rb, kami tawar menjadi 250 rb, antar-jemput. Jadi 25 rb/orang, lek masih tetap dengan motornya, arista ikut nebeng. Harga ini sudah termasuk murah, apalagi nanti kami tidak usah membayar tiket masuk ke papuma, yang tarifnya 7000/orang. Beruntung kan, lek membawa sewaan truk yang tepat. Tapi ketika menaikinya, aga’ kawatir, karena truknya kadang tiba-tiba ngadat, apalagi ketika ada tanjakan, aga’ pesimis kalau truknya bakal ngangkat.
Melalui belokan terahir bukit, masih dari atas bukit, kami langsung disuguhi pantai papuma yang eksotis. indah. Kami tiba kira-kira jam 4 an pm. Seturunnya dari transport, kami langsung menuju bagian papuma sebelah barat. Menikmati sunset, langit benar-benar cerah waktu itu. ini adalah salah satu pantai dan terindah yang pernah ku datangi. sunset yang sungguh indah, sunset yang sering ku hayalkan waktu masih kecil ketika memandangi gambar kalender di dinding kamar.


http://dewey.petra.ac.id/jiunkpe_dg_877.html
Seperti photo di samping, papuma itu pantai yang berbentuk tanjung yang menjorok ke laut. Namanya juga ‘tanjung’ papuma kan. Kau bisa menikmati sunset dari pantai sebelah baratnya(sebelah kanan tanjung) dan menikmati sunrise dari pantai sisi sebelahnya(sebelah kiri tanjung). Kau bisa sekaligus menikmati dua siklus matahari, sunrise dan sunset. Di sepanjang  pantai sebelah timur adalah tempat ditambatnya perahu-perahu pelaut, disisi itu juga terdapat para pedagang, bukanya hanya siang hari, ada musholla dan ada cottage juga yang disewakan, pokoknya semua tempat kehidupan ada di sepanjang pantai sisi yang timur itu. dibagian bawah photo itu adalah bukit, jadi untuk menuju papuma kalau dari darat, harus melalui bukit atau tebing. iya, tempat camping yang diperbolehkan juga hanya yang di sisi timur itu, katanya ada yang patroli kalau malam, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. tapi begitulah anak muda kawan dan begitu jugalah kami. hasrat untuk pengakuan diri lebih tinggi daripada kepintaran kami untuk mematuhi, peraturan, kesopanan, ketertiban, dll.

Setelah puas photo-photo dan matahari pun sudah terbenam. Kami pergi ke tempat persewaan tenda yang disediakan disitu, Aku tau ini juga dari internet, diweb-nya terpasang harga sewa tenda 35 rb/hr, lebih murah jika kami harus menyewa tenda dari surabaya. teknologi benar-benar memberi kemudahan. Tapi tenang, kehidupan memang tidak semulus itu. Setelah Aku dan Atho' sampai  di tempat persewaan, ternyata harganya 70 rb/ hari. Wow, teknologi sialan, sedikitpun tidak bisa dipercaya. 'berembuk dulu pak'. yup, kabur dulu. Setelah sholat, kami berembuk lagi dan memutuskan untuk nyewa satu tenda, untuk ceweknya saja, yang cowok bisa tidur di luar, untung saja waktu itu bukan musim hujan.


Untung saja(lagi) rencana nyewa itu gagal, teman kami yang berencana menyusul, arif dan rengga, membawa terepal dan tali secukupnya untuk membuat tenda survival, apalagi yang bisa lebih menyenangkan dari ini. Sebelumnya kami memang memberitaukan, bahwa rencana untuk nyewa tenda kemungkinan besar gagal. Mereka sungguh dewa penyelamat. Jadilah setelah maghrib itu sebagian dari kami ada yang memasak(khusus untuk ibi-ibu rumah tangga) dan sebagian lagi menyiapkan tenda. kalian pasti sudah menduganya kan dimana tempat camping ground kami, ya, disebelah timur tanjung, yaitu terletak pada koordinat,,, tanyakan pada yang tau peta.
kami memasak dengan menggunakan panci yang pernah dibawa ke sempu, meskipun bukan dengan kompor yang sama. lalu karena egy sang filosof selendro bereksperimen memasak dengan membuat tungku dari cerukan pasir, membuat panci kesayanganku itu berubah menjadi sangat hitam. hiks. Alas yang kami gunakan untuk tendapun adalah tikar yang kami bawa waktu ke sempu ditambah matras, satu paket dengan carrier yang ku bawa. Ditemani Langit cerah,  bulan-penuh terbit tepat ditengah-tengah laut, seperti di film kesayangannya Arista;  twilight, new moon. Romantis bagi yang berpasangan, tapi aku yang sendirian merasakan galau.  Malam itu kami habiskan dengan menyeduh kopi, menikmati hangatnya api unggun da berjalan-jalan di pantai. 
ada sedikit drama yang terselip pada ombak yang dengan pelan menggoyangkan perahu-perahu nelayan, pada pasir lembab yang ku injak. Saat kami berjalan-berjalan di pantai, aku memisahkan diri dari teman-teman.  kebutuhanku yang menyedihkan untuk berdiam sendirian tiba-tiba muncul.
Seperti semua ketidakjelasan(ketidakrasionalan) pada kisah drama, itu jugalah yang terjadi padaku, tak tau kenapa tiba-tiba saja ingin memikirkan negara, pada nilai rupiah yang katanya stabil padahal itu hanyalah kebohongan formula dan angka, pada persepsi yang dibengkokkan sedikit-sedikit hingga ahirnya diterima secara bersama, dompetku kosong itu salah siapa?! Juga pada masalah internasional tentang ramalan suku maya, aku tak berharap banyak bahwa ramalannya akan seperti yang di filmkan, karena aku sudah tau cerita sebenarnya seperti apa, ada seorang ‘teman’ yang datang dan menceritakannya, tapi untuk cerita itu akan ada bagiannya sendiri.
DUUUK!!! Aku membuat jatuh seseorang! aku tak sadar, aku tadi hanya berjalan melamun sepanjang pantai, ini jelas-jelas bukan salahku. Perempuan!? dia berdiri tanpa mempedulikan bantuanku, aku buru-buru menunduk sambil mengucapkan permintaan maaf, Tapi tak ada balasan, tak ada senyuman, bahkan tak ada perubahan apapun di aliran mukanya, seolah tak ada apa-apa. Ku coba tatap matanya. aku… kehidupan tiba-tiba menjadi penuh dengan cahaya yang berlebihan. Dirinya benar-benar bercahaya, tak tau apakah aku menikmatinya atau malah tersiksa dengan silaunya. Aku terasa begitu ringan, seolah menjadi asap dan kehilangan kesadaran selama sesaat. mungkin akan seperti itu kalau menuruti aturan di film-film, tapi yang terjadi padaku ternyata tidak. Yang ku rasakan hanyalah… ntahlah, jantungku berdetak cepat dan sangat keras, aku sempat kawatir bahwa dia akan mendengarnya.
 Lalu tanpa berkata sedikitpun dia pergi. WWHAATT!!!??? Dia benar-benar mengacuhkanku!! Benar-benar!!! Oke, fine. Pergilah. Apa susahnya sih menanyakan kabar(?), menanyakan nama atau sekedar mengobrol biasa layaknya anak muda yang sedang kasmaran, dan di ahir percakapan kau bolehlah nanti minta akun atau no. hpku, lalu dengan seolah-olah tak mau aku akan menawari diri untuk mengantarmu balik.
Aku tak tau. aku ingin marah, tapi tak bisa. Ada sensasi rasa yang aneh saat melihatnya menjauh, Ada rasa gelisah yang menyergap dadaku begitu kuat, rasa kehilangan, rasa rindu yang yang ditolak kuat-kuat oleh akal sehatku, aku bahkan tak melihat wajahnya dengan jelas. Dengan bulan penuh yang menggantung pucat di langit pekat, aku merasakan bahwa malam ini adalah malam teromantis dalam hidupku. Tapi aku tak mau mengejarnya, yang bisa ku lakukan hanyalah tetap dengan murung menikmati cahaya bulan. Karena sebuah rencana untuk mengejarnya terdengar begitu vulgar, itu hanya akan merusak keindahan malam ini.

hahaha.. cerita tanpa drama itu kurang menarik kan, hanya bumbu penyedap.


Untuk jaga tenda, Shiftnya bergantian, mataku sudah ga’ kuat menahan kantuk, jam 12 an aku terlelap. Jam 3-an aku dibangunkan untuk berjaga. Singkat cerita pagi-pun menjelang, kami sama-sama menikmati sunrise. dengan jejeran perahunya yang ditambat, membuat sunrise di pantai itu lebih menawan. Langit sangat cerah.
sunrice di tanjung papuma

Setelah puas dengan photo-photo sunrise, tendapun sudah dibongkar, sarapan sudah masuk ke perut dan pakaian untuk berenang di laut telah dikenakan. kami beralih ke pantai sebelah barat,  mencari tempat yang lebih sepi dan luas. Selalu ada rasa tenang saat menikmati alam, menyusuri pantai yang putih dan panjang, dibeberapa tempat ada jejeran batu yang telah menghalus karena sering kena deburan air. Sebelum berenang, kami naik dulu ke atas Siti Hinggil.
pantai sebelah barat tanjung papuma


watu ulo

Setelah ombak semakin mengganas dan kami pun sudah puas bermain di pantai, setelah juga kami membersihkan diri di jedding per bayar, kami pun sudah siap untuk pulang, kira-kira jam 12 an. Kami tiba di Surabaya jam 8-nan pm.







Tuesday, January 29, 2013

Rencana yang tertunda

Tuesday, January 29, 2013

Sebenarnya sudah sejak waktu yang teramat lama ada keinginan berpetualang(yang kemudian aku tau istilah kerennya adalah backpakeran atau Touring), tapi keinginan itu sepertinya mulai terwujud setelah aku masuk kampus. 

Ntah tepatnya mulainya dari mana, kapan atau ada apa, aku dan seorang temanku-sebut saja namanya Huda- berencana untuk keliling jawa timur dalam satu kali perjalanan. Waktu itu kami MABA dan Semangat sedang menggebu-gebunya. Kami tinggal di asrama yang sama, meskipun beda kamar. keesokan harinya Huda sudah mengantongi peta jawa timur lengkap dengan tempat wisata alamnya. Rencana pun lalu kami susun, dari yang berpetualangnya naik sepeda ontel(kami sama-sama hanya punya sepeda ontel waktu itu), naik angkutan umum gratisan dengan mengandalkan jempol kanan atau ngamen di dalam bis, lagu apa yang nanti akan kami nyanyikan tak terpikirkan waktu itu.  coba bayangkan, kalo misal kami beneran naik bis dari Surabaya dan ingin berhenti di malang, berapa lagu yang harus kami nyanyikan, turun di malang mulut kami pasti sudah ga’ bisa mingkem dan berbusa-busa seperti kesurupan.

Semua rencana itu gagal, nunggu ada sepeda motor dan mau nabung dulu. Tapi waktu itu kami yakin, benar-benar yakin bahwa suatu saat kami pasti akan melakukannya.

Setelah tahun pertama di asrama, kami pindah ke kost dan menempati kamar yang sama. Rencanapun sepertinya akan terlaksana waktu liburan semester ganjil(semester 3) karena motor sudah ada, yang perlu dipersiapkan selanjutnya adalah dana perjalanan. Kami sama-sama sadar bahwa petualangan ini keinginan kami sendiri, untuk kesenangan kami sendiri. jadinya waktu itu kami menyisihkan uang dengan cara mencari warung termurah dan makan dengan porsi termurah. Itu berlangsung berapa hari atau mungkin berapa bulan aku tak menghitungnya. Tapi setelah sebentar uangnya terkumpul, kami menghabiskannya, dikumpulkan, dihabiskan lagi, begitulah seterusnya. ahirnya kami sama-sama menyerah, lalu sama-sama beralasan “Waktu liburan kan awal bulan, jatah uang bulan itu aja kita pakai”. masalah dana terselesaikan.

Kurang lebih satu bulan sebelum liburan, rencana kami tak bisa dilaksanakan, benar-benar ga’ bisa. Sebenarnya, alasannya ingin saja ku ceritakan seperti di film-film agar lebih mendramatisir; karena kami menyukai wanita yang sama lalu kami bermusuhan atau karena kami menjadi pewaris klan dan klan kami saling bermusuhan, ahirnya kami berjahuan. Tapi nyatanya bukan seperti itu, jadi singkirkan dulu hayalan liarmu itu.

Huda mengidap penyakit yang menghalanginya untuk bepergian jauh. Ketika aku nanya paling ya sembuh beberapa hari, dia bilang penyakitnya itu butuh terapi dan semi permanen. Begitulah ahir rencana kami di tahun itu dan sebelum liburan semester genap(semester 4), aku harus pindah ke secretariat organisasiku karena ga’ ada yang menempati, padahal nanti secretariatnya penuh seperti kandang. yah begitulah, rencana kami di tahun itu gagal.

Dengan keadaannya yang seperti itu, ketika ada kesempatan untuk jalan-jalan, setiap kali Huda aku ajak untuk bepergian sering kali tidak sanggup. Mungkin masih belum saatnya kami berpetualang bersama. Yah, Kehidupan memang punya jalannya sendiri, meskipun kami tidak bisa selalu bepergian bersama, ada perjalanan yang kami lalui bersama

  • -famgat CSS waktu MABA(waktu itu kami sedikit melakukan petualangan kecil dengan menyusuri  bukit dan persawahan, sampai ada petani yang memalak kami), 
  • ke Bale Kambang + bendungan Selorejo(rekreasi angkatan D’09 yang ke-3), 
  • dia juga pernah menemaniku mengantarkan surat undangan osspen ke sumenep(perjalanan yang melelahkan dan sedikit bikin trauma) dan yang terahir, 
  • baru-baru ini adalah pendakian ke Gn. Semeru(yang mengatakan bahwa ‘sop teraneh’ itu enak adalah dia). 
Ada juga perjalanan yang dia ga’ bisa ikut, 

  • rekreasi angkatan pertama D’09(coban rondo), 
  • jalan-jalanku dengan teman jurusan ke beberapa air terjun di pacet, 
  • pendakianku yang pertama(ke gn. welirang), 
  • ke Gn. Merbabu(di jawa tengah)
  • pergi ke gn. bromo dadakan(malamnya sepakat, malamnya itu juga berangkat),
  •  petualangan ke pulau sempu
  • 2 kali pendakian ke Gn. Arjuno(dua-duanya mendaki beda jalur), 
  • kebun teh di wonosari waktu pendakian gn. arjuno yang pertama, 
  • 2 siklus matahari di pantai papuma
  • pendakian tanggal satu suro di Gn. Lawu

Selain itu sebenarnya masih ada perjalanan lain, tapi itu bukan waktunya untuk disebutkan karena sebenarnya ketertarikan kami lebih pada berpetualang menikmati alam, menikmati keindahannya. Sampai sekarang hanya itu yang ku pikr telah ku lakukan.

Ketimbang peta yang kami punya saat MABA, tempat-tempat itu masih terbilang sedikit. Berharap suatu saat bisa terwujud semua, bukan hanya di jawa timur, tapi di setiap penjuru dunia yang kaki bisa melangkahkannya disana. Menciptakan suatu petualangan yang menakjubkan untuk diri sendiri dan untuk orang lain, dengan jiwa sendiri dan bersama orang lain.

peta yang kami punya saat Maba


Tiba-tiba saja ingin menulis ini, mengenang rencana menakjubkan yang tercipta dengan seorang teman yang sangat pendiam.

Pulau Sempu: Kera dan Anjing liar



17-01-2012(liburan semester 5)

Waktu itu sore hari, kira-kira jam 4 pm. langit aga’ mendung, musim hujan. Aku bersiap di secretariat, tempat awal pemberangkatan adalah dari kostan teman-temanku dan disana kami ketambahan seorang anggota, dio. dari sana juga, kami membawa alas untuk tenda yaitu 2 tikar, bukan tikar plastic. Setelahnya aku meminjam kompor gas dan panci ke kostan kakakku. Bawaan sepertinya sudah lengkap, tendanya? Kami berencana nyewa di Malang, untuk penghematan sewa perharinya. Alamatnya aku peroleh lewat internet beserta cp nya. Jadi kami sudah siap bukan?! bawaanku di tas juga hanya sepotong baju ganti. Jam setengah 5 pm kami berangkat dari Surabaya.

Rencana pergi ke sempu ini awalnya sebenarnya iseng-iseng. Benar-benar pasti berangkat itu juga pas pagi harinya, kalau bisa dibilang begitu. Setelah UAS sebelum jum’atan, di kostan kami searching tempat persewaan tenda, dapat alamatnya, kami pun siap berangkat. Yah begitulah. Ga’ perlu repot-repot, lagian kami beranggotakan para lelaki. Makanannyapun ntar cuma mie instan, itupun rencananya kami beli nanti di perjalanan ketika sudah dekat dengan pantainya. satu lagi, kami tidak ada yang tau rute ke arah pulau Sempu. waktu liat di peta, google map, hanya untuk memperkirakan arah, jarak dan waktu tempuhnya perjalanan, kau tak bisa berharap banyak pada peta selain untuk itu. But, its oke. Cuman masalah rute bisa diatasi kemudian.

Ini adalah acara ngamping kami yang pertama. Bukan di gunung, tapi di pantai, mereka lebih suka yang ada lautnya, memberikan nuansa drama katanya. dasar orang-orang aneh. Jadi Dimulailah petualangan para lelaki.  Atho', Dio, Aku, Arista  dan Tommy.


Kira-kira jam 7-an pm kami sudah memasuki kota Malang, di lawang, kami berhenti dulu. tenang, bukan untuk godain cewe’. meskipun waktu itu kami masih pada jomblo(kecuali satu orang), tapi sebenarnya kami lumayan populer. penting ga’ ini.

Ada yang jualan nasi goreng, kami samperin. “pak, tau alamat ini ga?” tentu, ada urusan lain apalagi kalau bukan untuk menanyakan alamat, alamat ke penyewaan tenda. Kami benar-benar buta arah. Sebenarnya Tommy pernah satu tahun tinggal di Malang, tapi dia bilang ga’ tau juga alamat itu. Pilihan terahir memang nanya orang, lebih simple dan praktis, tapi bapak yang kami tanyakan itu juga ga’ bisa bantu banyak, tempatnya ternyata masih jauh dan banyak belokannya. But it’s oke, itu hanya hal kecil.

benar-benar mukjizat, teknologi itu sungguh keajaiban. Singkat cerita, Arista ingat kalau hp-nya bisa buat gps, masalah kami ke tempat penyewaan tenda sudah selesai, kan? Kami kira juga begitu. Singkat cerita juga, dengan damai kami sampai di persimpangan ke jl. ***(jangan Tanya alamtnya apa, kami semua sudah lupa), kebetulan ada pos polisi di depan persimpangan itu, kami tanyakan, ternyata betul itu ke jl.***. Benar-benar perjalanan yang tanpa rintangan sedikitpun. Setelahnya kami tinggal cari no. alamatnya saja.

kami hanya tinggal mengikuti Panah gps saja. Setelah sekian menit, titik gps berhenti tepat di depan rumah sakit(kami juga lupa nama rumah sakitnya apa), berarti tempat persewaannya dekat situ kami pikir. Yah lagi-lagi, tinggal nanya orang dekat situ. Toko di depan kami samperin, tapi ibunya jawab ga’ tau. yah ibu’, daerah sendiri koq malah ga’ tau. Jadinya kami beralih ke warung makanan, masnya malah jawab

“oh, kalau itu ga’ tau, tapi kalau tenda buat kemanten itu ada de’, masuk gang situ aja”. Plis deh, jadinya cetar membahana, ampun pak de. kami nanya orang-orang di situ pun ternyata ga’ ada yang tau, alamat dengan no.itu pun mereka sepertinya belum pernah dengar. Apa kami kelewatan ya. ahirnya kami balik lagi menyusuri jalan yang tadi, tiap ada toko kami berhenti, siapa tau itu tempatnya, tapi tetap  ga’ ada yang tau, kami balik lagi ke depan rumah sakit itu. kurang yakin, takut orang-orang yang kami tanyakan waktu itu sedang ngelindur, kami tanyakan sekali lagi. Dan apa coba jawabannya, sungguh keajaiban.

“oh, ada dek, tenda buat nikahan ya, masuk gang situ, ntar tokonya kelihatan koq” iya deh mas, waktu itu kami sudah mulai galau kawan. Sudah 45 menit-an muter-muter. Kata-kata masnya itu ahirnya kami percayai saja, siapa tau di situ memang tempat penyewaannya. tapi kalau ternyata ga’ menyewakan tenda camping, kami kan bisa ntar camping pake’ terop itu, mungkin kera-kera hutan ntar mau jadi dayang, ntah siapa yang mau jadi mantennya aku ga’ tau. oke, ga’ penting lagi. my… kami harus kembali dari ‘tempat kata masnya itu’ dengan tangan kosong.

Dimana tempatmu tenda?! Mungkin kalian salah alamat. Tidak kawan, kami sudah nelpon dan alamatnya sudah benar dan katanya dekat situ. Jadi apa selanjutnya yang harus kami lakukan? Coba dengarkan, Ini seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Ckakakaka….

kami balik dulu ke pos polisi tadi, nanya sekali lagi. Aku sangat  berharap bahwa jl. *** bukan di situ, mungkin ada jl. *** yang lain. Tapi pak polisinya sungguh tega. Itulah satu-satunya jl. *** di Malang. Jadi dengan sangat kecewa kami balik lagi. Perutpun sudah meronta-ronta, tapi kami ga’ bakal makan sebelum tenda didapatkan.

Semua daerah disitu ahirnya kami telusuri sedetail-detailnya. Gang-gang kecil bablas, depan rumah orang, undakan terjal yang membuat kami harus turun dari motor, semuanya bablas. nanya ke kantor camat pun sudah, apa coba’ katanya; “ga’ ada alamat itu dek”, perumahan sudah gelap, jm 10 an pm lewat. waktu itu aku benar-benar sudah pengen banting ster balik ke Surabaya. Rencana nekatpun bermunculan, bagaimana kalau tendanya ganti aja pake’ jas hujan.

Ah, tapi pepatah memang selalu tepat kawan. “Pucuk dicinta ulampun tiba” . Dan sekali-kali kau memang perlu melihat ke atas. Setelah berjuta-juta kali melewati jl. di dekatnya rumah sakit itu, jarak 3 gang mungkin, dengan hati berkecamuk ga’ karuan tak sengaja melihat ke atas. Disitulah letaknya kawan, di lt.2, dengan spanduk apa adanya dengan tulisan “nah kan, lupa juga namanya apa”, lt.1 nya digunakan untuk toko kelontong, di depannya kantor camat. ga’ persis di depannya seh, tapi coba banyangkan. Bertepatan dengan itu juga, Tommy nanya, ahirnya di antara sekian banyak orang yang ditanya, ada ibu’-ibu’ yang tau alamat itu.

Tenda pun kemudian di dapat dengan kapasitas 6 orang(20 rb/hr), di tempat itu pula kami beli gas satu kaleng karena kami hanya camping satu malam satu hari. Waktu itu malam sabtu, kami nyewa tenda 2 hr, terhitung mulai dari sabtu sampai minggu. Malam itu Kami berencana nginap di kontrakan temannya Tommy yang masih tinggal di Malang, berada di perkampusan Brawijaya, kami harus putar arah lagi untuk sampai ke sana. Sekarang waktunya untuk makan, kemudian tidur. besoknya baru dilanjutkan perjalanan ke pulau sempu.

Tempat persewaan tenda itu ternyata se arah ke pulau sempu, jadi besoknya kami melewati jalan itu lagi. Ada rasa keakraban saat melewati jalan itu. Yah, sedikit mendramatisir.

18-01-2012

Pagi-pagi sekali setelah mandi dengan air sedingin es, kami berangkat melanjutkan perjalanan. Pagi yang indah, waktu pagi memang selalu bisa membuat hati cerah. langit biru, arakan tipis awan, cahaya segar matahari, embun pagi. Benar-benar sempurna untuk mengawali hari.

Setelah lumayan lama, ahirnya kami dapati juga yang sudah buka jualan nasi. Rp. 2500/piring kalau ga’ salah. Terkejut?! Kami juga terkejut waktu itu. Porsinya memang seadanya. Tempe, penyek + nasi pecel. Memang tidak begitu mengenyangkan, tapi setidaknya cukuplah untuk sumber energy. Kira-kira jam 8 am kami berangkat lagi. Tak lupa diperjalanan kami berhenti dulu di mart untuk beli komsumsi dan kopi, juga tiap orang bawa air 2 botol besar, di sempu ga’ ada mata air.

Rute yang kami lalui lumayan mudah. semalam waktu nyewa tenda, kami telah di beri arahan oleh masnya. Kami tidak memakai gps lagi, Baterai sangat berharga untuk waktu sekarang ini kawan. Singkat cerita lagi, kami berada di kawasan jalan berbukit,  berarti kami hampir sampai. kalau mau tau, jalannya bersebelahan dengan jurang, naik ataupun turun dengan terjal dan berkelok-kelok tentu saja. Lumayan menyenangkan. Kecepatan dan tantangan memang selalu mampu membuat benar-benar hidup. apalagi pemandangan di sekeliling kami masih hijau, juga dibawah kami terhampar perkebunan dan sawah yang sangat luas dengan beberapa pemukiman penduduk. Beberapa kali kami berhenti untuk menikmatinya.

Lalu beberapa puluh menit pun berlalu, kira-kira jam ½ 10-an am. selamat datang di Sendang Biru kawan, pemberhentian terahir sebelum menyebrang ke pulau sempu. Untuk biaya masuk dikenakan rp 6000/orang. Setelah memarkir motor di tempat yang telah disediakan, Aku dan Arista langsung menuju tempat perijinan. Di tempat perijinan ada tante dari national geograpi yang sedang berbincang dengan bapak penjaganya. Banyak sekali yang diobrolkan. Intinya adalah pelestarian dan peningkatan infrastruktur di pulau sempu. Sejaman kami menunggu, mereka belum selesai juga. Gelisah itu adalah ketika kau menunggu seseorang, tapi orang yang kau tunggu itu pura-pura ga’ tau bahwa sedang kau tunggu. jadinya untuk mengisi waktu itu, kami sampai hapal pajangan yang ada di dinding pos perijinan. mulai dari rute jalan sempu ke segara anakan, biota-nya, kegiatan pemungutan sampah dan juga yang mengalami kecelakan serius karena bermain di gua segara anakan-nya. Ironis, maksud hati untuk bersenang-senang, tapi pulang harus dengan ditandu.

Prosedur perijinannya tidak rumit, cukup mengisi jumlah orang, berapa lama kami akan tinggal di sempu-sama seperti perijinan untuk memasuki kawasan lindung biasanya- dan diminta memberi sumbangan secukupnya. Kami mengasih 20 rb. oleh bapaknya kami diberi arahan untuk membawa kembali sampah yang kami bawa, tidak merusak hutan, pokoknya sama seperti arahan untuk memasuki kawasan lindung biasanya. Kami juga diberi tau bahwa jalanannya nanti sangat becek dengan di beberapa tempat banyak karang yang tajam, kami disarankan untuk menyewa sepatu khusus di jalan seperti itu, 10 rb/hr. Terima kasih, tapi beceknya juga bakal seperti apa, karangnya juga bakal seperti apa pikir kami. Ah, itu cuman becek kawan, maksudku itu bukan seperti jalan berapi dengan meteor yang berjatuhan, kan. Sebelumnya aku juga sudah diberitahu Huda waktu ku ajak, sempu waktu musim hujan benar-benar becek kata temannya.
Oke, teman-taman yang lain pun(Tommy, Atho’ dan Dio) telah mendapatkan perahu yang akan menyebrangkan kami, lalu kesepakatanpun dibuat dengan mas perahunya, ntah kebetulan atau apa, mukanya mirip salah seorang teman akrab kami yang tlah pindah kuliah. Sewanya 100 rb/perahu, pulang-pergi, kapasitasnya bisa sampai menampung 13 orang, kami balik dari pulau sempu setelah berapa hari pun ga’ masalah, yang penting hari masih siang ketika kami minta dijemput dengan ditelpon. Sebelum berangkat, kami ganti ke pakain perjalanan, dari yang pakainya sepatu ada yang ganti pakai sandal, celana jeans ganti celana pendek. Aku sendiri tetap dengan kemeja hitam, celana krem dan sepatu ketsku. Aku tau jalannya nanti becek(itu cuman becek, jalan becek separah apa sih) dan karena sekarang musim hujan, pohon-pohon pasti basah dan ber-lumut. ga’ masalah. Karena itu ga’ lebih penting daripada kau sampai ditempat camping dan ternyata ada cewe’ manis, kau bisa langsung mengedipkan mata ke arahnya kan, dengan tampilan yang keren itu pasti sangat membantu. Ckakakakaka….

Ditemani bau garam yang dibawa angin laut, ombak kecil yang sekali-kali mengahantam perahu kami, terumbu karang di dasar laut yang tampak jelas karena air laut benar-benar jernih dan langit yang biru cerah, Kami mulai menyebrang untuk sampai ke pulau sempu. Kira-kira jam ½ 11-an am.


15 menit kemudian kami sampai di pulau sempu, tujuan camping kami adalah di segara anakan, normal katanya 1 ½ jam perjalanan, tinggal mengikuti jalan yang sudah ada. Sampai di pantai, kami langsung memasuki hutan, mengikuti rute. tapi, Oh, ini sungguh-sungguh keterlaluan, katanya jalannya becek, bukan, itu sama sekali salah. Ini bukan jalan kawan, lebih tepatnya adalah kubangan lumpur yang berwarna hitam. Sekali kami menginjaknya, kaki langsung terperosok ke dalam, sangat sulit untuk mengangkatnya lagi. Sepatu bukan pilihan tepat, apalagi sandal. Di perparah juga, dibawah jalan yang telah jadi lumpur itu, di beberapa tempat terdapat karang dan akar-akar pohon yang besar. Jadi sekarang apa yang tersisa untuk kami? ada yang masih tetap pakai sepatu, tapi sebagaian dari kami ahirnya memilih untuk nyeker, termasuk aku. Karangnya ada yang masih bisa di lewati dengan sangat hati-hati, walaupun masih meninggalkan rasa sakit ketik menginjaknya. Solusi lain pun kami mencari jalan alternative dan bergelantungan di pinggir-pinggirnya, kalau memang ada dan memungkinkan.

Seperti itulah cerita sebagaian besar perjalanan kami untuk sampai ke segara anakan. Jalan yang jadi lumpur, sering kali menjebak kaki dan hampir membuat kami jatuh, beberapa kali telah terjadi, sangat licin. Karang-karang yang tajam, jika jatuh di atasnya sudah pasti kau akan berahir dimana, membuat kami harus bergantungan pada pohon-pohon kecil, pada akar-akar rambatnya pohon yang sudah tua. Kami benar-benar di dalam hutan, dengan pepohonannya yang sangat rapat, tinggi-tinggi dan sudah berumur sekian abad, sesekali kami melihat sejenis burung yang besar di puncak dahannya. Banyak juga pohon yang tumbang, jadinya kami harus mengitarinya dulu, ada juga jalan yang masih banjir tergenang air. sering kali juga kami tertipu, mengira telah mendengar deburan ombak segara anakan. dengan jalan setapak yang telah jadi lumpur itu, membuat perjalanan ini benar-benar tak habis pikir.

Iya, ada lagi yang masih belum kuceritakan, tante dari national geographi itu ternyata ke sempu untuk penelitian, di dampingi suami bulenya dan anak gadisnya yang masih berumur 7 th. Mereka tentu saja nyewa porter/guider(kasarnya, adalah dewa penyelamat untuk mengangkatkan barang). waktu di hutan, mulai dari awal perjalanan, kebetulan kami berbarengan dengan mereka. Dengan sepatu yang memang khusus untuk jalan seperti itu, dengan mantap mereka berjalan, kami? kami harus tertatih-tatih dibelakang mereka, dengan sesekali pantat harus mencium jalanan hutan sempu.

Di suatu waktu, suaminya akan memoto keadaan sekitar. di suatu waktu pula, jika ada hewan liar, kami semua disuruh diam, agar hewannya tidak kabur untuk diphoto. Kami melakukannya dengan senang, apalagi yang lebih menyenangkan selain punya teman seperjalanan kan. Tapi itu tidak berlangsung lama kawan. di suatu waktu, dengan sinar matahari terik yang menembus rapatnya daun dan dahan pepohonan, lumpur yang telah mesra menempel di sebagian tubuh kami, bau basah pepohonan hutan, di suatu waktu itulah kami harus benar-benar diam, karena sang suami harus memoto kera yang sangat besar(besarnya mungkin seperti salah seorang temanku) yang sedang bertengger di puncak pohon. Kami semua diam dengan patuh.

Jepret, photo pun telah di ambil, tapi si raja pohon ternyta tau kalau sedang diphoto dan langsung memerkan gigi-giginya yang tajam itu pada kami, jangan salah paham, bukan untuk berpose tentu saja. Itu ditunjukkan untuk mengancam kami karena dianggap telah mengganggu dan memasuki teritorinya. Keadaan tiba-tiba menjadi thriller. dia langsung membuat kegaduhan di atas pohon, memalak, loncat dari pohon satu ke yang satunya, juga mengancam dengan menjatuhkan buah-seperti nangka- dari atas pohon, BRUUUK! Kami langsung tercekat membatu. Bukannya mereda, tapi malah ada temannya yang ikut nimbrung, keadaan tambah gaduh dan semakin tak terkendali, tapi para gerombolan dari national geographi itu malah pergi meninggalkan kami. posisinya kami memang aga’ tertinggal di belakang. Sial. Kami semua masih terpaku, tidak mau mengundang perhatian lebih jauh lagi dengan bergerak. Keadaan sudah sangat mirip dengan adegan di film indiana jones. Pilihan terahir, kami harus siap berperang, bayangan buruk sudah berkelabatan tak karuan.

/*       mungkin Kabur adalah satu-satunya cara, tapi kami tak sepengecut itu. bagi lelaki, itu bukanlah pilihan. Dengan pelan-pelan kami meletakkan semua bawaan di atas tanah. Ransel, tenda, koper gas, panci, sandal jepit, sepatu, semuanya. Lalu dengan tenang, kami semua menengadah ke atas langit. Betapa indah langit waktu itu, biru dengan beberapa arakan awan putih yang anggun. Aroma basah pohon, tetes air di dedaunan, lumut hijau, jalan yang telah jadi lumpur dan berkarang ini. Kenangan di hutan itu takkan kami lupakan. Tiba-tiba ada rasa hening yang melanda, meskipun sebenarnya keadaan dia atas pohon sudah sangat kacau, kera itu memanggil kelompoknya. Apalagi pilihan kami?!.

HYYYYYYYYYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!


BREAK BENTAR …………………………………………………………….


Ironis, kami kesini bukan untuk bercengkrama dengan hewan liar kawan. Ampun pak kera. Eh, Tanpa diduga kegaduhan ternyata semakin hilang, lalu hening. Merasa sudah cukup aman, kami kemudian pergi dengan selamat(benar-benar di luar dugaan), dengan tergesa-gesa tentu saja. Selanjutnya kalau kebetulan berpapasan, kami selalu menjauhkan diri dari para gerombolan national geographi itu, satu kali ditinggal bersama hewan liar sudah cukup bagi kami. meskipun pada ahirnya kami sering kali juga berbarengan dengan mereka lagi.

3 jam kemudian, masih di dalam hutan, kami dihadapkan dengan titian yang sudah rusak, tidak panjang , kira-kira 3 m. Kalau nekat lewat situ, jatuh adalah hal yang benar-benar tidak kami harapkan. Meskipun tidak terlalu tinggi, karang telah siap menanti di bawah. kami memilih berjalan lewat bawah, kami pun sampai di sebrang.

here we go, air  laut berada di pinggir kanan bawah kami, biru dengan pasir putihnya di dasar, langit sangat cerah, di kejauhan sesekali kami mendengar deburan ombak yang menghempas segara anakan. Ya, kami telah sampai, kira-kira jam 2 pm. Ahirnya, setelah berjuang mati-matian dan misuh sudah benar-benar nyangkut di tenggorokan. luar biasa kawan, rasanya seperti kau dicium katrina kaif, diamnya saja sudah bikin hati luluh, kau malah dapat ciumannya. Coba bayangkan!!! Tapi sudahlah, ga’ usah terlalu keras dibayangkan. Aku juga ga’ tau seperti apa.

Ada satu rahasia yang ingin ku katakan, memakai celana jeans dengan medan seperti itu benar-benar pilihan yang buruk, apalagi jika celanamu sering melorot ditambah kau harus membawa tenda yang seperti meriam itu.  Yah, sebenarnya aku sudah menyiapkan celana pendek di balik jeans-nya, tapi buka celana di perjalanan itu sudah tidak memungkinkan lagi.

Sesampainya di segara anakan kami langsung membangun tenda, buka baju lalu langsung terjun ke laut. Segara anakan itu seperti danau, tapi dengan air laut. Sebuah cekungan besar di dalam pulau yang dikelilingi tebing yang menjulang, air laut masuk dari lubang(disebut segara anakan) yang terjadi akibat erosi berabad-abad silam. jadi siklus air di dalam pulau juga mengikuti keadaan air laut di luar tebing. Ada pasir putihnya juga, layaknya pantai pada umumnya. Jadi sebut saja tempat itu adalah lautan beserta pantainya di dalam pulau yang dikelilingi jalinan tebing. Indah tentu saja. Disana ada juga monyet, banyak. Tapi monyet yang satu ini tidak berbahaya, mereka hanya mendekat untuk mencari makanan sisa. Dari semua itu satu hal yang patut disayankan, meskipun ada pe-camping lain, tapi ga’ ada gadis yang bisa kami kedipkan mata.

 Puas berenang di laut, perut ternyata masih belum diisi. Mie mangkok pun masing-masing telah kami keluarkan. Tapi ntah apa lagi, teryata nasib senang kali mengajak bercanda. Kaleng gas yang kami beli ujungnya sedikit bengkok, jadinya ketika dimasukkan ke kompor, ga bisa pas. Api tidak keluar sama sekali, dicoba berapa kalipun tidak bisa. Sekali lagi kami hampir putus asa. Makan mienya mentahan aja, kopinya? Langsung minum aja ga’ usah diseduh. Tapi datangnya penyelamat memang dari mana saja kawan, teman dari ITB yang membangun tenda di sebelah kami, mencoba membenahinya. Tapi hasilnya tetap nihil. Setidaknya mereka sudah membantu. Pilihan terahir? kami terus berusaha mencobanya, ntah sudah berapa kali, seribu kali mungkin seperti thomas a. edisson, dengan sedikit dipaksa ahirnya bisa juga. Hoorree. Api birunya keluar dengan sangat anggun. Horrree. Bahagianya. Kalau ini rasanya seperti kau bisa menghidupkan kompor saat benar-benar memang dibutuhkan. -_-
our beloved tenda





Setelah makan, menyeduh kopi, dan menyulut rokok. Kami mengitari segara anakan. Tujuan pertama kami adalah tebing di belakang tempat tenda.







tebing di belakang tenda




Gerimis tiba-tiba mengguyur, terpaksa kami harus balik. di saat itulah kawan, aku sebenarnya tidak mau mengikutsertakan cerita ini, tapi temanku bersikeras selalu menceritakannya ketika kami mengobrol tentang waktu itu. Waktu kami mau balik, ada segerombolan bidadari yang datang dari dalam hutan. Ber-5 juga kalau ga’ salah. Jadi, apakah ini pertanda bahwa sekarang kami bisa mengedipkan mata?  -_- . Tapi mereka hanya sebentar di pantai, pukul 5-an pm sudah balik, lama setelah gerombolan dari national geographi pulang.

sehabis sholat maghrib, kami semua langsung tidur. malam-malam kami bangun lagi, bintang sudah bertebaran di langit, pantai semakin memanjang dan meluas karena air menyurut, pasirnya pun sudah mengering. Gelap, ga’ ada penerangan apapun kecuali dari api unggun, sinyal pun ga’ ada disana. Kami seperti benar-benar terasing dari kehidupan luar. Tapi kami bangun bukan hanya untuk menikmati keheningan alam, kami tidak sepuitis atau sepeka itu. ada yang lebih mendesak untuk dilakukan. Sebagian dari kami buka lapak, itu istilahnya. Memang tidak higienes, ga’ ada wc tentu saja. Dimana-mana tempat camping memang seperti itu, kau harus buat lubang dulu untuk buang air. Air yang digunakan untuk bersesuci diambil dari air laut dengan menggunakan botol. Setelah lumayan puas duduk-duduk di pantai, kami kembali memasuki tenda, melanjutkan mimpi.

19-01-2012

anggota Belalang Tempur(belum lengkap), Pagi di Pulau Sempu.


Keesokan harinya, setelah makan, kami melanjutkan naik tebing yang sama seperti kemarin dan dilanjutkan ke bagian lainnya, yang satu ini lumayang tinggi, harus bersusah payah untuk menaikinya.

pemandangan di atas tebing, pulau sempu





Perutpun sudah diisi dengan makan
siang, kami bersiap untuk pulang. Kira-kira jam 11 am. Pulangnya, kami akan melalui jalan seperti sebelumnya, akan mengulangi hal yang sama dengan waktu berangkat. Harus merasakan lagi kegetiran akibat kemarin. Tapi sudah dengan persiapan yang dirasa perlu. Sepatu dililit dengan tali raffia, atho’ menggenakan panci di kepalanya(seperti anak kecil di iklan susu “Life is an adventure” kalo boleh jujur. ckakakaka) dan hal yang sangat menentukan hidup matumu, celana jeans telah diganti dengan celana pendek. Kalau boleh memilih, sebenarnya kami sangat ingin dijemput oleh perahu dari situ, tapi disana ga’ ada tempat untuk perahu bertambat, kecuali jika kau ingin perahunya nunggu dibalik tebing dan caranya kau ke perahu adalah dengan melompat dari atas tebing. Tak ada pilihan seperti itu.

Di hutan sama saja seperti sebelumnya, jalan berlumpur, hutan basah. Dan satu lagi yang perlu diwaspadai adalah hewan liarnya. Kami selalu awas melihat ke atas pohon. Tak ada bunyi-bunyi aneh di atas pohon. Semuanya senyap, keheningan hutan yang mengancam. Setengah awal perjalanan semuanya aman terkendali, tapi perjalanan ini memang sungguh luar biasa. Beberapa waktu kemudian dari kejauhan, kami mendengar gonggongan sayu anjing liar. Reflek kami semua menyiapkan sebatang tongkat, kemarin sudah sangat memberi pelajaran pada kami apa yang pertama kali harus dipersiapkan. Kami berjalan mengendap-ngendap seperti sedang gerilya. Suaranya makin mendekat, kami pun semakin gelisah. Ada rasa getir yang merayap ke lidah, membuatnya terasa amat pahit. kemarin kami memang selamat, tapi saat pulang itulah sepertinya penentuannya.

Setelah sekian lama, tetap dengan langkah buru-buru kami, tiba-tiba semuanya kembali hening. Kami buru-buru menambah kecepatan, masih dengan keadaan awas, bisa saja kami diterkam tiba-tiba. Dan jalan berlumpur dan licin seperti itu benar-benar tidak membantu. Seringkali kami harus terjatuh. Itu masih belum lagi kami harus melewati tempat si raja pohon kemarin, tapi disitupun ternyata ga’ ada apa-apa. Zona awas telah di lalui.

Waktu pulang kami beberapa kali berpapasan dengan gerombolan lain yang sedang menuju segara anakan, sudah menjadi tradisi untuk saling menyapa sesama pejalan. Ketika juga ditanya perjalanannya apakah masih jauh, kau cuman harus bilang “udah dekat koq mas, bentar lagi”. itu semacam tata krama sesama pejalan, meskipun yang ditanya maupun yang nanya sebenarnya sudah sangat sadar bahwa perjalanan masih jauh.

sampai di luar hutan, di pantai tempat kami diturunkan dari perahu kemarin, kami membersihkan diri, sekalian istirahat menunggu jemputan datang. di tempat itu sinyal sudah ada.

it's time to go home

Pulangnya, perjalanan dengan motor ditemani hujan itu sudah biasa kan….

Bagiku, petualangan itu adalah ketika kau melakukan perjalanan dan melakukan perencanaan, tapi semuanya berjalan benar-benar di luar prediksimu, membuat jantungmu berdetak lebih cepat dari biasanya. Menakjubkan, itu yang bisa ku katakan. Berharap suatu saat bisa melakukan petualangan yang lebih menakjubkan, tapi dapat kembali dengan keadaan selamat dan utuh.

NB; jadi ku sarankan, kalau mau pergi ke pulau sempu, musim hujan saja.
Dan ada lagi satu rahasia. ada satu paragraph yang bohong, yang ada tanda ini-nya (/*). Mana iya kami mau ngelawan kera. ckakakakakaa......


Dimensi Tak Hingga © 2014