Sunday, January 7, 2018

Mungkin, kita hanya butuh hujan

Sunday, January 7, 2018
Kau tau apa yang membuat kita menghawatirkan banyak hal: karena ketidakmampuan kita atau karena kemampuan kita

29/12/2017. Itu sore yang berawan, langit gelap dipenuhi oleh awan cumulus, angin dingin sesekali menghempas tubuh kami, mungkin sebentar lagi hujan akan jatuh di surabaya, mungkin juga tidak. Kau tau, proses hujan itu adalah proses yang sangat nonlinear, artinya perilaku hujan itu sangat sulit untuk diprediksi, perubahan kecil saja pada satu variabelnya bisa saja berdampak sangat besar pada keseluruhan prosesnya. Kalau tidak jadi hujan, oke, kalau jadi hujan maka aku akan sangat senang berkendara diguyur oleh tetes-tetes dinginnya.

Ya aku akan bepergian, tepatnya kami. Abid, afif, Mahasin, fadil dan aku. dua orang pertama itu baru ku kenal, temannnya mahasin. Kami berencana hiking tipis-tipis ke gunung penanggungan. Disebut tipis-tipis karena beberapa jam nanjak aja sudah sampai puncak, 3-5 jam. Dan kami memang berencana tidak lama di sana, satu hari aja. Berangkat sore ini, besok siangnya balik. Perlengkapan sudah siap; tenda, kompor, nasting dan beberapa logistik. Makanan yang kami bawa tidak banyak, beberapa bungkus mie instan, roti, madu dan chocolatos (bubuk). Yang terakhir ini sangat penting, minuman kemenangan waktu di puncak. Menang bukan menaklukan gunung, tapi menaklukkan diri sendiri.

Hampir jam 05.00 pm kita berangkat dari kostanku. Suasana perjalanan ini sudah lama ku rindukan, apalagi ketika sudah mendekati basecamp penanjakan, suanana dingin dataran tinggi dan gerimis, hampir setiap hiking suasananya seperti ini. Selama perjalanan kami beberapa kali berhenti, untuk sholat, makan dan kehilangan arah. Ah jadi malu. Mahasin dan fadil sebenarnya sudah beberapa kali ke penanggungan, dan mereka boncengan, harusnya tambahan perjalanan ini relatif bisa dihindari. Tapi ya seperti itu mereka, seringkali mendebat hal-hal yang tidak perlu, sering, serius, sudah seperti sejoli. “Belok kiri ini harusnya”, ”udah lurus aja” dan seterusnya, tapi hilang arahnya tidak lama. Jam setengah 9-nan kami sampai di basecamp pendakian. Motor, kami parkir di tempat yang sudah disediakan, 10k/motor. Disitu juga terdapat banyak warung, sebelum memulai penanjakan, kami istirahat sebentar, minum kopi, makan pisang dan membuang air-air yang tidak perlu.

Setelah menyelesaikan registrasi, dan bayar 10k/orang sebagai biaya masuk, jam setengah 11 pm, kami sudah siap untuk memulai pendakian, 5 cowok, 1 sudah berkeluarga dan punya anak, sisanya jones, jadi jangan salahkan jika kami berharap menemukan yang bening-bening selama pendakian, setidaknya sebagai penyadar bahwa masih ada perempuan. Ya, sebatas penyadar, mana berani *kami ngajak kenalan. dikira jones itu hanya title, hah. itu bukti kengenesan, jadi jangan remehkan, plis. maaf ralat, *mereka.


pose dulu sebelum mulai ndaki

Untuk sampai di puncak, ada empat pos yang harus kami lalui, pos 1 adalah tempat registrasi, pos 2-4 berada antara pos 1 dan puncak bayangan. Puncaknya sendiri ada dua, puncak bayangan dan puncak sejati. Meskipun sama-sama dinamai puncak, perbedaannya sangat jauh. Rutenya adalah puncak bayangan lalu puncak sejati. track paling curam adalah track setelah puncak bayangan itu, track untuk menuju puncak sejati. Kalau ada yang bilang kemiringannya sampai 90 derajat, sedikit membesar-besarkan, tapi di beberapa tempat kemiringannya memang parah. Itu cerita untuk nanti. Kita sekarang baru memulai pendakian. Untuk menuju pos 2, tracknya tidak sulit, bisa dibilang landai. Tapi karena sudah lama tidak melakukan olah fisik, track seperti ini saja sudah bikin keringat bercucuran. Kapan terakhir olah fisik, dua bulan lalu? entahlah.  Di pos 2 kita berhenti sebentar, mengatur nafas. Selanjutya, Sisa perjalanannya kita skip aja ya. Singkat aja, oke. Jadi, perjalanan antara pos 2 sampai puncak bayangan dipenuhi oleh pusing, kram dan mual. Pusing dan kram tentu sudah jadi langganannya Mahasin, sudah langganan, tiap hiking dia kram, pernah hampir mau nyemplung di ranu kumbolo, lucu sekaligus menyedihkan. Mual, aku sendiri, kesalahan sebelum berangkat makan sambelnya banyak banget. jadinya hampir seluruh perjalanan pos 2-4, perutku bergejolak ga karuan. Tapi perjalanannya tetap menyenangkan, apalagi dua sejoli tadi sering lempar argumen. Sulit aku gambarkan, kau perlu ikut kami hiking untuk tau kemeriahannya. Karena kadang lelucon itu hanya lucu bagi orang yang sudah dekat. Kau perlu jadi bagian kami untuk menikmati leluconnya.

Di akhir tanjakan yang lumayan curam, kami tiba di puncak bayangan. Tanah lapang dan beberapa tempat sudah ada tenda yang didirikan, tapi bukan itu letak keindahannya. Di balik punggung kami, tepatnya setelah menoleh, kami disuguhi hamparan kerlap-kerlip lampu jauh di bawah kami, sudah beberapa kali menikmati pemandangan ini, tetap saja tidak membuat bosan, dan pemandangan seperti ini selalu membuat teringat masa kecil. Tahun-tahun sebelum listrik masuk ke desa, kami (aku, kakak dan beberapa teman ngaji) seringkali tiduran di emperan sambil berlomba menghitung banyaknya bintang di langit, di angka ke 500  aku sudah kehilangan jejak, bagaimana mungkin aku bisa menghitung bintang sebanyak itu, yang ketika kelas 3 SD, aku baru tahu bahwa jumlah bintang ltu jutaan, bahwa matahari itu juga bintang, bahwa bintang yang satu dengan yang lainnya jaraknya bisa sangat berjauhan, tidak seperti yang ku duga sebelumnya bahwa bintang-bintang itu letaknya berjajaran seperti lampu di langit-langit rumah. Mereka indah dan juga misterius. Tapi langit malam ini gelap, rintik-rintik air sesekali berjatuhan dari langit. Kami sepakat untuk istirahat sebentar, sebelum melakukan penanjakan terakhir menuju puncak sejati. Duduk sambil melihat kerlap kerlip lampu peradaban, jauh dihadapan kami juga terdapat gunung kembar, arjuno dan wlirang. Angin dingin gunung semakin membuat tubuh ini merindukan kasur kost, bantal dan gulingnya.

Setelah beristirahat kira-kira 50 menitan, Jam 2 am kurang 15 menit kami melanjutkan pendakian. Saat mendongak ke atas, puncaknya sudah kelihatan, kelihatan dekat, tapi jangan tertipu. Dari surabaya pun puncaknya sudah kelihatan. Kita masih setengah perjalanan, setengah perjalanan selanjutnya inilah yang paling sulit. Baru di mulaipun kemiringannya sudah curam, semakin jauh bukan semakin mudah, tapi semakin parah. Hampir di seluruh track kami harus merangkak dan mencari tumbuhan yang mampu menjadi pegangan, dengan carrier di punggung membuat pedakian ini semakin membuat gundah. Ini pendakian yang pertama kali membuatku putus asa. Sebelumnya tidak pernah, di semeru sampai puncak aku juga bawa carrier, isinya logistik. arjuna dan wlirang juga sama, yang katanya track bikin ngilu, tapi oke-oke aja, tidak sedikitpun terbesit untuk banting stir, balik. Nah ini yang cuman bukit, beberapa kali memaksaku memikirkan tentang makna kehidupan.

‘’sebenarnya apa yang aku cari dari bersusah payah seperti ini? kalau cuman ingin senang-senang kenapa ga camping di tempat fun aja, pantai misalkan, ga kalah menyenangkan” pada suatu waktu.
“mungkin inti dari hiking ini hanyalah pembuktian diri. Pada siapa sebenarnya aku ingin membuktikan diri” pada waktu yang lain
Dll.

Pikiran-pikiran semacam ini tak bisa lepas, saking putus asanya aku memprtanyakan pola pikir dan kecendrunganku. Ga ada jawabannya. Inti dari refleksi kan memang mencerca dirimu sendiri dengan pertanyaan-pertanyan, ini salah satu contoh yang tidak sehat, sorry about that. Kata-kata “menaklukkan diri sendiri” menjadi semakin berarti pada pendakian ini. bukan gunung, tapi diri kita sendiri. Lagian gunung diam, apa yang coba ditaklukkan.

Selain memang tracknya yang cendrung sangat curam dan bawaan yang berat, mungkin karena fisikku memang sudah ringkih, bawaannya capek terus. Kurang olahraga. Anehnya, meskipun sudah tau sengsara seperti ini, suatu saat akan pengen lagi hiking. Kata fadil, hiking itu indah kalau kita sudah ada di bawah, tinggal bagian ceritanya aja, akhirnya merindukan.

Tapi kita akhirnya sampai juga di puncak, kira-kira jam 4. Aku sedikit medahului karena bawa tenda, ingin cepat didirikan karena sudah ada tanda-tanda mau hujan, disusul oleh afif dan abid. Asin dan fadil? Kantong makanan di perut mereka perlu sedikit dikurangi. Tapi jangan salah, mereka sudah pro naik gunung, kau tau apa yang membedakan seorang pro dan amatir, tekad dan kesabaran. Selama menuju puncak ini, seringkali dari bawah aku mendengar teriakan “woi kram, bantuin”, yups ga ada yang bisa dilakukan selain ketawa dan sedih.

Setelah tenda didirikan kami buru-buru masuk ke dalam, tidur sebentar, sholat subuh lalu menikmati sunrise.


tenda satu-satunya di puncak


Menyenangkan bisa menikmati pemandangan seperti ini

Mahasin kram, kita cuman sibuk ngetawain


Dimensi Tak Hingga © 2014