Sunday, May 19, 2013

Sunday, May 19, 2013

Air berjatuhan dari langit. pelan-pelan kemudian semakin cepat. Ntah sudah berapa kali aku melihat hujan. Ntah sudah berapa kali dinginnya mampu membuat tenang. Suara berjatuhannya  di atap rumah, aliran airnya di halaman, titik-titik airnya pada daun.

Aku tak ingat kapan tepatnya pertama kali melihat hujan (>,<), kapan pertama kali tetes airnya yang dingin menyentuh kulitku. tapi jika itu berbicara tentang hujan, maka ceritaku bersamanya kebanyakan adalah beberapa tahun yang lalu. Bukan cerita yang menarik sebenarnya, bukan. Ini hanyalah cerita anak kecil seperti umumnya dan jika berbicara tentang orang dewasa, ini hanyalah masalah kenangan yang sudah agak sedikit usang di rak memori bagian belakang yang kadang-kadang meminta untuk diceritakan, jadi ya, ini bukanlah cerita fairy tale, bukan cerita tentang pahlawan, bukan cerita tentang petualangan di liburan lebaran dan tentu bukan cerita percintaan. Hanya cerita anak kecil pada umumnya.

Pelan-pelan aliran udara membawa semuanya kembali, Tubuhku mengecil, halaman rumahkupun juga ikut berubah, tanaman-tanaman mengecil kemudian mencuat tanaman yang lebih besar, pecahan genteng merah berserakan di bawahnya pancuran saluran air atap rumah. semuanya kembali ke 17 thn yang lalu. Mungkin lebih ke belakang atau mungkin ke depan, ntahlah. Tanpa buang waktu Ku susuri jalan setapak yang biasanya waktu kecil ku lalui saat hujan, ku ambil tongkat yang tergeletak di jalan atau kalau di jalan tak ada, pohon yang masih hidup akan ku ambil rantingnya-yang lumayan lurus tentunya- dan ini alternative terahir, alternative yang biasanya sering ku hindari, mematahkan tanaman singkong di ladang orang. Kau pasti membayangkan aku mengambilnya sambil mengendap-ngendap, tapi tak seperti itu. Patahkan, bersihkan daun-daunnya, selesai. Sesimple itu. Ukuran tongkatnya tak boleh terlalu besar dan juga tak boleh terlalu kecil, ukuran sedang, ukuran yang mudah untuk ku ayunkan tapi membuatku puas saat ku hantamkan dan juga tidak membebani ketika ku bawa lari.

Hmm, Jangan tarik nafas dulu. Aku tak pergi untuk berkelahi. Tenanglah cinta(>,<). Dari segian banyak kegiatanku di waktu kecil saat hujan mengguyur, salah satunya adalah berkelahi dengan anak-anak kampung sebelah. Tak ada alasan khusus, Senang aja melihat darah mengalir di tengah-tengah hujan, bunyi langkah kaki kami yang menghempas genangan air di dijalan ketika berlari menyongsong lawan, teriakan lantang yang bersautan dengan Guntur atau kibasan rambut basahku yang panjangya tak seberapa waktu itu.

Ya, ya, area sudah di depan.bukan waktunya lagi untuk meragu. Aku bersama yang lain, kakak, sepupu-sepupuku dan teman ngajiku harus sudah siap. Masalah sebenarnya simple aja. Ayolah, tentu saja, anak kecil mana tau masalah rumit, seperti cinta segitiga misalnya(?). Jadi mari kita luruskan duduk permasalahannya dulu. Pertama yang perlu diketahui adalah hujan, HUJAN bagi kami anak kampong adalah sesuatu yang WOW. Seperti dapat uang pecahan ribuan waktu maulidan, ah bukan. Seperti melihat poop yang mengapung di sungai waktu kami berenang, tentu saja bukan. Atau mungkin seperti saat berhasil mencuri pandang pada mba’ cantik waktu kami ngaji, bukan juga. Pokoknya WOW, hujan itu adalah waktu yang sacral bagi kami, selain juga bahwa jika kau diperbolehkan hujan-hujanan oleh orang tuamu, itu adalah torehan prestasi yang gemilang, sangat membanggakan. Jadi keesokan harinya waktu di sekolah, kau bisa berceloteh apa saja yang kau lakukan waktu hujan, tanpa lupa dengan dada terangkat tentunya. Seperti itulah hujan bagi kami. Maka jika hujan turun, kami tak akan buang-buang waktu lagi, mengumpulkan teman-teman dan melakukan apa saja, apa saja. Main bola di ladang orang(yang masih belum di bajak) yang jika tiba-tiba ada kilat, kami akan sepakat langsung tengkurap, main glusutan(luncuran/licin-licinan(?)) di emperan rumah. Mencari burung-burung malang yang kedinginan, atau sekedar lari-larian ga’ jelas di jalan karena merasa sayang membuang dengan percuma torehan prestasi yang didapat. Dan yang terahir, kegiatan favorit selain main bola saat hujan adalah mengejar puyuh(*puyuh runner), bingung apa itu?! Ga’ heran, karena hanya suku terkerenlah yang melakukannya. Jadi gini, eh yang disitu, tolong frekuensi IQ nya dinaikkan dulu, agar kalian bisa menangkapnya. Karena kegiatan ini butuh penjelasan formula matematis yang rumit, butuh kedisiplinan tinggi dam jiwa seoarang kesatria. >,<.

Ini sebenarnya adalah taktik hidup mati(ngaco lagi). Simple saja. Didasarkan dari pengetahuan bahwa hewan-hewan pasti kedinginan waktu hujan, jadi mereka akan mencari tempat berteduh. Kalo hewan rumahan biasanya berteduhnya di emperan rumah, seperti ayam misal kalau ga segera di usir akan meninggalkan sisa makan paginya. Kalau hewan liar, biasanya akan mencari tempat yang benar-benar rimbun. Burung kalau hujannya benar-benar lebat akan mencari pohon yang pendek, karena mereka tidak kuat lagi terbang. Kalau puyuh akan mencari semak-semak. Disitulah kami para puyuh runner mengadukan nasib(>,<). Tongkat itu sebenarnya buat cari puyuh. kami hantamkan tongkat pada tiap rimbunan semak, atau kalau kurang meyakinkan, dilanjutkan dengan menyodok-nyodoknya, kalau kurang buruntung, mencari semak-semak yang lain dan melakukan hal yang sama, hantam-sodok-cari-hantam-sodok. Seperti itulah seterusnya.

Dan hari ini seperti biasa, hujan yang sacral seperti biasa. Pukulan kami mulai melemah pada semak-semak di ujung ladang, tapi tiba-tiba ada sekelabatan terbang melarikan diri

“PORO(puyuh)!!!” serentak kami semua berlari mengejar. Aneh sebenarnya, dengan kecepatan lari kami yang terkatung-katung-kadang masih harus terpleset oleh petakan ladang- mencoba mengejar tebangnya puyuh. Tapi ya lagi-lagi, anak kecil tidak butuh penjelasan rumit untuk melakukan sesuatu. Tidak butuh penjelasan tentang fisika-gerak bahwa ini presentase keberhasilannya sangat kecil. Tak butuh itu, untuk senang-senang itu saja, karena senang melakukannya, itu saja. Toh meskipun nanti tak ada puyuh yang kami dapatkan kami tak kecewa, karena kami sudah sangat bahagia. Atau misalkan nanti dapat puyuh, berarti ada dada yang lebih terangkat dari biasanya dan mulut yang sedikit berbusa ketika bercerita di sekolah esok harinya.

Kami masih terkatung-katung mengikuti, puyuh itu ga selalu terbang, jadi kurang lebih berjarak satu lading mereka akan mendarat, menysusup di antara tanaman dan mencoba bersembunyi, jika mereka merasa bahaya, akan terbang lagi mencari tempat baru, begitulah seterusnya, terbang mereka juga ga’ tinggi. Nafas kami mulai habis, sepertinya begitu juga yang di alami si puyuh, sepertinya ini presentase yang kecil itu. Aku yang oaling kecil, jadi aku sedikit tertinggal dibelakang, mata sudah berkunang-kunang.

“olle(dapat)!!!!” mendengarnya aku sangat senang, membayangkan bahwa teman-temanku besok disekolah akan menganga mendengar ceritaku ini. Tapi yang dapat ternyata bukan dari kelompokku, kelompok dari kampong sebelah ternyata. Salah satu teman kami sudah beradu mulut. Genggaman pada tongkat semakin ku eratkan….

http://www.topdesignmag.com/wp-content/uploads/2011/08/727.jpg

Bersambung dulu-lah…..

Saturday, May 11, 2013

Malming Jomblo

Saturday, May 11, 2013

Bagi kalian yang lebih suka melakukan aksi mungkin akan sedikit melirik pada kebahagian kami, tentang obrolan sopan dan penuh teori tentang sebuah asmara. Tentu saja, tak ada aksi, hanya teori yang merambat kemana-mana, berlarian kesana-kemari seperti bocah kecil baru melihat tempat baru, mengawang-ngawang kemudian terpekur disudut ruag tergelap. Ya, beginilah yang mengaku punya kekasih yang berada jauh disana  atau jomblo menghabiskan waktu malmingnya. Merindu kekasih yang entah ada dimana, menatap layar desktop computer sudah mulai agak jenuh, mau membuat puisi bulan tak juga muncul, jadilah otak dan jiwa kami yang membutuhkan gerimis mengais-mengais pada teori yang kami nikmati bersama atau teman kami yang berada di kamar sebelah yang menhabiskan malmingnya dengan mengejar setoran untuk design logo TM.

Pada satu waktu, temanku akan berkata
“dicintai itu adalah suatu keharusan” kalau aku artikan, maka maknanya akan seperti ini, karena keharusan itu adalah sesuatu yang mengekang. Dicntai itu adalah sebuah penjara. “kalau kita mencintai, itu adalah sebuah kebebasan”. Kalau kau mendengarkan langsung dari anaknya, kau mungkin bingung sebenarnya apa maksudnya, tapi begitulah dia, dengan kosa kata bahasa indo yang seadanya mencoba untuk berfilosofi… :v

Lalu aku timpali;
“kalau dalam buku art of loving” aku berhenti sejenak “kau tau kenapa banyak anak muda rela menyerahkan kehormatannya, seeorang rela mekakukan apa saja demi kekasihnya dan semacamnya, itu semua karena mereka hanya ingin dicintai, manusia modern ini memang menderita, menderita untuk dicinta, sehingga melakukan apa saja agar orang lain memperhatikannya, mencintainya. Tapi kalau kita mencintai, itu kita hanya memberi, bukan berharap untuk mendapatkan balasan”

Dia menjawab ”seperti itulah maksudku, kau membahasakannya dengan baik”.. ckakakakak, kami tertawa bersama.

selanjutnya teori kami berputar-putar pada cara untuk mendapatkan wanita, mencoba mengerti sebuah sikap wanita, yang rumitnya melebihi labirin yang tak berujung, bagaimana cara mencintai wanita. ntah ampuh apa tidak bukan masalah kami. Dan untuk masalah yang satu ini aku lebih banyak diam, aku tau kemampuanku sendiri, hiks. Dialah yang banyak bicara, mengaku keturunannya arjuna, dari tampang sok seriusnya yang didramatisir itu seolah membuat sebuah pengumuman, inilah duniaku kawan. Kalau ada ember di dekat situ, aku pasti sudah muntah.

Ya seperti itulah, waktu sudah beranjak semakin larut, Tapi sebelum ku tutup percakapan ini, perlu diperhatikan, percakapan kami bukan pada suasana yang penuh semangat seperti saat hakim menjatuhkan hukuman bagi pencuri ayam, seperti para anggota di gedung “putih” yang sangat semangat membahas jala-jalan atau seperti para mahasiswa yang ‘turun ke jalan’. Permbincangan yang kami lakukan adalah pada kondisi yang sangat tenang, seperti layaknya seorang plegmatis dan melankolis melakukan obrolan, pada kondisi dia mengoceh sambil menyelesaikan game chess ol-nya dan pada tempat dudukku di sandaran pintu yang tatapan senduku(hueks) sesekali melihat ke atas sambil menggaruk kepala.

Dimensi Tak Hingga © 2014