Sunday, June 14, 2015

Dopamine dan Porn-Addict, Maniak

Sunday, June 14, 2015
Dewasa ini mungkin pornografi bisa dibilang sangat lumrah. Lumrah disini artinya bahwa pornografi sangat mudah untuk diakses, jika dulu yang bisa menikmatinya hanya orang-orang yang sudah cukup umur, mungkin malah hanya terbatas pada mereka yang sudah menikah, tapi sekarang anak balita yang baru graduate menyususui dari ibunya bisa langsung upgrade menyusui dengan arti yang benar-benar berbeda. Maaf, mencari padanan kata yang sopan untuk hal semacam itu memang sulit.
Mencengangkan, tidak juga, sudah sangat biasa. ‘Biasa’ adalah arti lain dari secara sadar ‘menerima’ keadaan itu. Ya, wow. Kita ‘membiasakan’ diri pada sesuatu yang merusak merupakan sebuah(bukti apa?). Jadi jangan pikir yang mengalami degradasi hanya mereka yang sudah biasa melakukannya, tapi juga mereka yang menganggap itu sudah biasa .~maaf, posisiku disini hanya sebagai pemulis, :v ~. Jadi siapa yang patut disalahkan? semua salah tentu saja, tanggung jawabnya tidak hanya terletak pada satu golongan. Pemerintah, orang tua, kau, dia dan rumput bergoyangpun juga terlibat. Basi.
           
Bagaimana dopamin berpengaruh dalam porn-addiction?
setelah menonton pornography(+kegiatan yang menyertainya) atau melakukan hubungan intim setidaknya ada beberapa hormon dan neurotransmitter yang dilepaskan
1.      Norepinephrine : meyebabkan fokus dan siaga “sesuatu akan terjadi, bersiaplah”
2.      Oxitocin dan vasopressin : menyebabkan memori jangka panjang.
adegan pornography yang ditonton tersebut akan melekat erat di ingatan, dan ini mempunyai efek “binding”, mengikat. Jika melakukan hubungan intim maka akan “terikat” dengan pasangannya. Jika pornography maka akan terikat dengan gambar (video itu juga gambar). Jika kegiatan ini dilakukan terus menerus, efek “binding”nya akan semakin kuat. Maka jangan heran jika nantinya ada orang yang lebih terikat kepada ‘koleksinya’ ketimbang kepada pasangannya.
3.      Endorphine: opiate alami yang menyebabkan high
4.   Setelah kegiatan ++, otak akan melepaskan serotonim: menyebabkan tenang dan relaksasi.perasaan nyaman ke sluruh tubuh
selain ke empat senyawa kimia tersebut, adalagi neurotransmiter yang dilepaskan oleh otak, yaitu dopamin. Dopamin dilepaskan dalam jumlah yang banyak dan termasuk di dalam sistem reward, menjadi reinforcement. Dopamin itu membuat melakukan pornography lagi agar bisa mendapatkan reward itu lagi, seeking.
Jadi dimulai dari ‘tanpa sengaja’, lau terulang lagi, terus terulangi lagi, lagi dan lagi, dan nanti terjadilah sebuah kondisi yang disebut addiction. Dimulai dengan satu film, terus-menerus bertambah hingga sebagian besar kehidupannya hanya dihabiskan didepan layar,  selanjutnya mungkin tidak hanya film, kelainan seks dan tindakan asusila akan menjadi pilihan. Ini dikarenakan sensitifitasnya mulai hilang, dibutuhkan porsi yang lebih banyak dan berat untuk menghasilkan ‘rasa’ yang sama. Dan perilaku ini tidak akan bisa instan dihentikan, jika pertama kali pemicu perilakunya karena ‘tanpa sengaja’, selanjutnya mungkin melihat mouse saja, bam, sudah tegang.
Parahnya, efek negatifnya bukan hanya terdengar keren dalam konteks sosial saja, yaitu maniak, addiction, dimana realita sekitarnya tidak bisa membuatnya menarik, acuh tak acuh, di dalam pikirannya hanyalah ‘koleksinya’. dalam medis, perilaku ini dikarenakan prefrontal cortex yang terlalu sering terpapar dopamin dalam jumlah banyak sehingga mengalami kerusakan, berhenti berkembang dan menyusut. Dan ketika ini sudah menyangkut prefrontal cortex ~bagian otak yang berperan sangat penting dalam kehidupan manusia dan mempunyai fungsi yang sangat komplek, diantaranya adalah sebagai pembuat keputusan, kemampuan kognitif, perencanaan, dan aktifitas sosial dengan orang lain~. Orang yang mengalaminya secara umum tidak akan ‘masuk akal’, karena memang kemampuan reasoningny dull. Impulsive, tidak punya kendali terhadap emosinya. Semua prosedur tersebut terjadi secara otomatis dan dua arah; aktifitas dopamin yang sangat tinggi dan rusaknya prefrontal cortex.
tapi untungnya, prefrontal cortex yang mengalami kerusakan tersebut bisa sembuh dan berangsur kembali pada ukuran semula, caranya adalah dengan berhenti sepenuhnya dari aktifitas tersebut.

Bagaimana solusi konkritnya?
Ini yang lumayan sulit dan kompleks, kegiatan tersebut bermula karena banyak faktor, seperti; psikis pelaku, berarti ini melibatkan kondisi tempatnya tinggal, tingkat pendidikannya, kesejahteraan keluarganya, berarti ini juga melibatkan kondisi ekonomi negara tersebut, sistem pendidikannya, dan terus berlanjut hingga faktornya tidak terhingga banyak. Mudahnya akses merupakan bagian dari perputaran faktor yang banyak tersebut. Artinya untuk memperbaikinya maka seluruh lini juga harus diperbaiki. Kita semua terkait dalam sistem, kalau pernah membaca teori chaos dan meyakininya, maka kondisi kehidupaun ini merupakan akibat dari setiap komponen di dalamnya, dan perbuatan sekecil apapun mungkin saja akan memberikan efek yang sangat besar , butterfy effect. Tapi ini benar-benar akan terlalu kompleks jika langsung harus diterapkan, Tapi bukan berarti itu tidak penting.
Jadi oleh seorang matematikawan, pemasalahan tersebut akan dibuat model sistemnya, dimana yang dijadikan variabel (faktor) hanya beberapa kondisi yang berpengaruh secara signifikan. Yah seperti seorang fisikawan yang bisa memberikan solusi hanya pada ruang hampa udara, gerak jatuh bebas tanpa hambatan udara, bayangkan! Mana ada kertas dan batu menyentuh tanah bersamaan. :v
Tapi aku sendiri pun tidak begitu mendalami permasalahan ini, jadi silahkan para pembaca sendiri yang memikirkan solusinya… >,<


Semoga bermanfaat….

/* jika ingin tau lebih lanjut tentang dopamin, klik disini
http://dimensi-takhingga.blogspot.com/2015/06/dopamin-dan-porn-addiction-maniak.html

/* sebenarnya aku sudah pernah menulis tema semacam ini, tapi pembahasannya lebih ke arah agama
http://dimensi-takhingga.blogspot.com/2011/06/antisipasi-internet.html

No comments:

Dimensi Tak Hingga © 2014