Saturday, June 25, 2011

Antisipasi Internet

Saturday, June 25, 2011
Sekarang umurku tak se-imut dulu lagi, keringatku telah ikut membusuk seiring waktu yang mentelantarkanku ( apalagi kalau g pake' deodorant, hmmm, bisa di bayangkan betapa harumnya aroma tubuhku. untuk satu hal ini, kalian boleh tak percaya), Hatiku berantakan diterjang kemajuan yang tak terbendung dan tanpa antisipasi. Kehidupan sendu, politik praktis dan penuh kegamangan setidaknya telah ikut serta memberikan andil dalam menciptakan keadaanku sekarang ini. Aku kehilangan arah di antara kemilau lampu-lampu merah kuning hijau ( mungkin ini alasannya, kenapa aku sering nerobos lampu merah). Ya, setidaknya aku tak sendirian, masih banyak hantu-hantu gentayangan lain seperti diriku. Iblis di kursi mewah dan bisikan menggodanya itulah setidaknya yang harus disalahkan. Dan mungkin aku sendiri.

Kemajuan IPTEK
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dunia, yang kini dipimpin oleh perdaban barat satu abad terakhir ini, mencengangkan banyak orang di berbagai penjuru dunia(1). Begitu banyak hal yang disangka mustahil malah menjadi komsumsi ‘primer’ dalam realita kehidupan modern ini. Sebut saja internet. Dengan berbagai fitur-fitur canggihnya, dengan mudah dan cepat kita bisa mengakses berbagai informasi yang diinginkan. Dengan tingkat ke-wah-an seperti ini, siapa yang tak mau berlama-lama memekuri kaca bercahaya berbentuk persegi. Alhasil, tak sedikit ‘hal- hal aneh’ yang harusnya terkunci rapat di sudut kamar, terbuka begitu ‘indah’ di depan mata. semisal porno aksi dan porno grafi .
Dalam kasus ini, Tentang hukum menontonnya pasti semua sudah sangat paham dan sudah diluar lidah tentang dalil naqlinya.
wa La taqrobu al-zina innahu kaana faahisyata wwa kaana sabiilaa“
Artinya : “Dan janganlah kamu mendekati zina ; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk” ( Al-Israa’ :32)

Dalil di atas ditilik dari fiqh :
  • dari sisi bentuk kalimat. Kalimat di atas mengandung kata yang bermakna larangan, yaitu ‘la’ yang mempunyai arti jangan, menunjukkan pada keharaman medekati zina. Kaidah fiqh, al-amru fi al-ashli yadullu li al-wujub (Larangan pada dasarnya adalah menunnjukkan pada keharaman), mendekatinya saja haram, apalagi melakukannya. tentu saja.
  • dari pertimbangan efek yang menyertainya, yang tak jarang menjadi perantara munculnya kasus pelecehan seksual, penurunan tingkat kecerdasan hingga nantinnya memunculkan kesemerawutan moral, maka secara tegas menontonnya adalah haram. kaidah fiqh, Al-wasilah ila al-haram muharramah (segala perantara yang mengakibatkan keharaman hukumnya haram).
tapi yang terjadi dalam kenyataan adalah sebaliknya. bukannya penuh dengan brikade yang sulit ditembus, yang ada malah ‘tanpa rintangan’, tinggal klik saja beres. Begitu mudah mengakses ‘fitur-fitur’ tersebut. Alhasil, Bocah yang masih setinggi perutku, tak jarang yang telah menontonnya. Dan masih banyak lagi mudhorot lain yang harusnya kita hindari dari pelayanan internet. Terus, lantaran kasus ini apakah internet juga diharamkan karena perantara untuk melakukan sesuatu yang haram?

Ambil manfaat buang mudhorotnya
Dalam perkembangan dan melaksakan kehidupan yang juga nantinnya berorientasi pada kewajiban , modern ini, tanpa persiapan informasi, komunikasi yang cepat tangkas dalam berbagai media dan pengoptimalan media sumber daya yang tersedia. Bisa dipastikan kita akan masuk pada kelas pinggiran. Dalam agama apapun, apalagi dalam islam, tentu saja hal semacam ini tidak dibenarkan. Kita selalu diperintah untuk berpikir cerdas dalam menfaatkan situasi yang ada. Kita sama-sama tahu bagaimana nabi Muhammad shollahu ‘alaihi wasallam menjadi saudagar yang sukses pada masanya -banyak sekali hukum-hukum yang membahas tentang bagaimana berhubungan dengan sesama, baik itu perdangan, politik dsb-. Begitu juga khulafau al-rosyidin dan para pemimpin-pemimpin islam yang lain. tanpa pengoptimalan setiap sumber daya yang ada, semuanya hanyalah kebohongan belaka. Sehubungan dengan internet, kita sendiri dengan jelas dan paham beberapa efek positif yang ditimbulkannya. Tapi, meski banyak manfaatnya tidak malah menghapus kemudhorotan yang ditimbulkannya. Nah, disinilah letak kecerdasan dan keimanan kita di uji. Sesuai dengan Kaidah fiqh, dar’u al-mafasidi wa jalbi al-masholihi (tolak (yang membawa) mudhorot dan ambil (yang membawa) manfaat). Kita mestinya hanya mengambil manfaatnya tanpa mengotak-atik kemudhorotannya. Tapi, sehubungan dengan implementasi dalam relita, tanpa langkah kongkrit yang pasti, ini hanyalah angan-angan saja.

Perlunya pengawasan setiap pihak
Pengawasan dan pembelajaran harusnya memang dilakukan sejak dini, mulai dari rumah, yaitu keluarga. Dari teladan dan bimbingan keluarga itulah awal mula dibentuknya psikologis anak. dalam hal ini tentu saja yang paling berperan penting adalah orang tua, yang melahirkan dan mengurusi anak sedari kecil. Dengan menerapkan kasih sayang dalam membimbing. Dan penerapan hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian, semisal menjadi tempat curhat anak, meberikan kepercayaan yang positif sehinnga nantinya membangun mental yang sehat, mengajarkan disiplin dan etiket baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat umum, serta memerhatikan poin-poin penting lain dalam pendidikan anak dibarengi dengan pengajaran tauhid yang mudah dicerna, merupakan awal yang cerah bagi anak untuk menghadapi zaman yang maju. Tapi, kewajiban orang tua dalam mengawasi anak tidak berahir di usia dini ini saja.

Seiring berjalannya waktu, anak akan memasuki tahap sekolah. Di dalam sekolah inilah nantinya anak akan mempelajari pengetahuan umum. karena disinilah tahap pertama anak akan berinteraksi dengan dunia luar secara langsung, maka seharusnya sekolah tidak hanya mengajarkan Iptek, tapi juga memasukkan pembentukan karakter dalam kurikulumnya. Semisal memasukkan pelajaran budaya dan kesenian indonesia dalam pelajaran wajib, agar mereka tidak hilang akar sejatinnya. Sehingga nantinya, sekolah tidak mencetak generasi apatis dan komsumtif tak kritis. Tapi generasi berakhlak mulia, berilmu, mandiri, dan cinta terhadap negara.

Tapi segala macam cara diatas masih belum cukup, karena tanpa pen-stop-an sumber yang menimbulkan ke-mudhorotan, masih dimungkinkan terjadinya masalah. Sehubungan dengan sistem, adalah tanggung jawab pemerintah sebagai ulil amri. Setakat ini, lalu lahirlah fiqh sultoni. Dalam fiqh ini pemerintah diserahi tugas untuk menetapkan kebijakan(2). Sehubungan dengan internet. Sejalan dengan UU No 3 tahun 2003 tentang petahanan negara. Pemerintah harus bertindak tegas terhadap segala sesuatu yang dapat mengancam kesejahteraan rakyatnya. Tugas pemerintahlah untuk mem-blockir segala macam situs yang pasti mendatangkan kemudhorotan.


(1) . http://ahmadsamantho.wordpress.com
(2). Kompas no 255 tahun ke- 46



Saturday, June 18, 2011

My first Hiking (at wlerang) Bab I

Saturday, June 18, 2011
pasal 1

“ Woro-woro..
sudah siap mendaki?
siaaaap .:-D
nanti kumpul jam 1 an di yapita ya
cz brang2nya ada dsana..ok.
jangan lupa jas hujannya bro ;-) ”

Sent:
25-Mar-2011 07:50:26

Setelah shlolat jum’at, dengan tak sabar, aku mem-packing barang-barang yang sekiranya ntar dibutuhkan buat mendaki. Setelah ‘kurasa’  lengkap, dengan detak jantung yang meledak-ledak, aku pacu motorku menuju masjid yapita,  tapi yang datang masih cuman aku. mas Sholik (yang sms di atas) juga masih menggunakan baju koko merah mudanya. Ah... dengan sangat kecewa, aku balik dulu ke kost-an buat tidur sejenak kalau ‘bisa’.
Kira-kira jam 2an, aku di sms untuk menuju yapita. Sudah pada kumpul katanya. Ya, dengan detak jantung yang sama, dan juga mengendarai motor yang sama, aku sampai di yapita. Memang, disana sudah ngumpul mas sholikin dan mas sigit. Tapi ini masih belum lengkap. Ya, tak apalah. kami bercanda dengan sisa waktu yang ada sebelum berangkat.

Setelah sholat ashar, kami sudah siap untuk berangkat (dari rencana berangkat jam stngh 2an molor sampai jam stgh 4). Yang beranggotakan : Mochamad Sholikin, Darill M. Arief, Sigit PanCahayani, Ade Rifani Ardian, Wong Bulu, Umar Faruk dan aku sendiri Khoiron Benraxid. Aku berboncengan dengan mas Daril, Mas sigit dengan mas Umar, mas sholikin dengan mas Sholik dan mas Ade sendiri.
Di awal perjalanan, dengan lancar kami memacu motor. oh, tidak. Langit memekat, sepekat labirin di rumah yang tak berpenghuni. Aku buka kaca helm teropongku, ku bentangkan tangan kiriku(yang satunya memegang kemudi) dan kurasakan belaian lembut angin basah yang melirih pelan. “Ini pasti hujan” batinku. Kami merasakan hal yang sama. hujan akan turun sebentar lagi. Sress. Dan mulailah hujan itu turun tepat di depan jalan raya sebelum Royal. Kami berhenti sejenak untuk memasang jas hujan. Hujan ini akan menemani sisa perjalanan kami hingga sampai di tempat tujuan. Tapi, tentu saja kami tak gentar. Dengan semangat seorang anak kecil, kami men-ngebut layaknya pembalap pro. Oh, bung. Kurasa rosi takkan mampu menyusul kami. Kamilah raja jalanan kali ini.

Sesampainya di pandaan, kami berhenti sejenak untuk menuanaikan janji  di masid Cheng Hoo. Kami bukanlah apa-apa untuk-NYA. Kami hanya sedikit merayu-NYA dengan Ibadah kami yang serba kekurangan. Kami harap Dia seidkit senang. Nah, di sinilah bencana itu dimulai (bercanda). Mas sholik -dengan semangat yang dia ambil dari anak muda sepertiku- Meminta untuk mendokumentasikan jejak kami disini. Ah, Dasar orang tua. Pengennya  photo-photo aja. Hehehe. ini juga jangan kau anggap serius. Angkatan tertua adalah ’07 (3 orang), kemudian ’08 (3 orang) dan aku sendiri ’09. Jadi paling tua di antara kami kira-kira berumur 22 an. setelahnya, kami mengisi perut di warung, yang entahlah namanya apa. Dengan penuh napsu kulahap hidangan untukku. Nasi campur pake’ telur. Kenyang, betapa nikmat hidup ini.

Kami tiba ditempat registrasi kira-kira jam 8 kurang berapa, ntahlah. Setelah mas Ade menyelesaikan registrasinya sekaligus menyewa 1 senter dari warung yang ada disitu dan juga setelah aku menghabiskan sebatang rokok L.A ku di temani mas Umar (yang nantinya hanya mengenakan celana pendek sepak bola untuk naik gunung), Kami membaca doa ber jama’ah. kemudian kami meminta bapak yang jaga registrasi untuk memhoto kami. Aku dengan jumper jujitsu-ku dan celana bersaku banyak berwarna krem yang aku pinjam dari Huda (Teman sekamarku) serta ransel besar yang bergelayut manis di punggungku, maka di mulailah perjalanan kami menaklukkan gunung wlerang. Tepat jam setengah 9 malam kurang seperempat.

pasal 2
Dengan tawa riang karena lelucon renyah (serenyah peyeknya nasi pecel di pagi hari) yang sering kami lontarkan, dan dengan langkah ringan seringan cheetah saat memburu mangsa, Kami memulai berkenalan dengan jalan berbatu gunung wlerang.

“ atur posisi, 3 di depan 4 di belakang ” mas Ade memberi intruksi. Kalo bisa , sebenarnya aku ingin berada di tengah-tengah barisan aja. Setelah ibu (istri bapak pengurus registrasi) di warung yang kami sewa senternya tadi menceritakan hal-hal angker yang ada di sepanjang jalan menuju puncak, baraku sedikit meredup. Tapi akhirnya, aku memilih barisan di depan dengan tangan bergelantungan tanpa memegang senter. Aku tak kebagian senter karena senternya cuman ada 5. Di tengah kegelepan malam dan keheningan hutan yang mengancam, kami berjalan berdampingan. Dengan hati-hati -meski tak mengurangi kecepatan langkah kami- , kami menyusuri jalan panjang dan berkelok-kelok. Celakanya, pada belokan ke 4 yang menanjak, Jempol kaki kanan mas Ade terluka. Dia tersandung batu nakal yang duduk melamun. Dari balik kukunya mengalirlah darah segar sewarna merah delima. Kami langsung mengambil inisiatif dengan membasuh kakinya dulu, kemudian dia menggunakan sepatu gunung dari karet yang ringan, setelah sebelumnya mengggunakan sandal yang berat, mengurangi resiko takut-takut dia tersandung batu tak bertanggung jawab lagi. Pikiranku mulai mngembara tak karuan waktu itu.

“ kikikiki!”. “ Eh, apa itu? ” batinku. Aku rasa telah mendengar tawa mirip bocah kecil  di balik pepohonon, di pinggir kiri atas kami. Apakah itu hantu? Gimana kalau dia datang gara-gara darah segar dari jempolnya mas Ade? Apa yang harus kami lakukan? Bulu kudukku berdiri, kulit bagian atas tengkorakku merinding. dengan keberanian yang aku paksakan, ku tebarkan pandangan ke seluruh penjuru hutan. Ternyata tak ada apa-apa. Yang lain sepertinya tak mendengarnya juga. Untunglah, itu cuman sisi gelap pikiranku yang suka menonoton filam horor saja. Atau mungkin itu sungguhan? Tapi Hanya aku yang mendengarnya?. Terserahlah. Berfantasilah sesukamu. Aku juga tak tau jawabannya.
                                                                #             #             #

“ Belok mana ni? ”.
“ kiri apa kanan? “.
“ ada tanda-tanda yang menunjukkan arahnya ga’?”. “ ga’ ada ”
“ seingatku kanan, tapi ntahlah”
“kenapa tadi aku  tak mendengarkan penjelasan bapaknya, aku terlalu meremehkan ”
“ aku cuman dengar sampai jalan setapaknya aja ”
“ kayaknya kiri, kita coba dulu, jika salah kita bisa balik dan ambil jalan yang satunya ” kata mas Ade. Soalnya tak lama lagi nanti ada pos penjaga yang tak berpenghuni. Jika nanti ga’ ketemu-ketemu posnya. Kami bakal balik lagi.
“ok, ayo berangkat ”  kami manut aja, soalnya emang dia yang paling memperhatikan penjelasan bapaknya tadi.
“ bismillah “. Seru kami kompak.
               
 gini bung. kami dibingungkan oleh jalan bercabang yang bersebrangan -Memang, di tempat registrasi tadi bapaknya telah menjelaskan rute yang harus kami ambil-. Kira-kira setelah kami berjalan selama 15 menit dari tempat registrasi. ini 15 menit yang melelahkan bung. Jalan yang menanjak dengan gelapnya malam yang membuat bulu tengkuk berdiri. Jadi, Jangan coba-coba berpikir kenapa kami tidak balik saja ke tempat registrasi tadi, dan nanya ama bapak pengurus registrasi sekaligus yang punya warung itu kemana harusnya jalan yang kami ambil. “ Cuman 15 menit aja kan ”. Ini pernyataan yang paling menusuk hati (lebay) jika kami harus mendengarnya. Apakah jalan yang kami ambil salah? Apakah nantinya kami harus balik lagi?
                                                                #             #             #

“ sudah sampai di kop-kopan ” kataku. Kebetulan aku berada paling depan bersama mas Daril. Kemudian mas sigit.
“ alhamdulillah “ seru kami.
Setelah melalui jam-jam menegangkan dengan gerimis yang selalu setia menemani. Ahirnya Kami sampai juga di kop-kopan (istilah untuk tempat pemberhentian sementara) pada jam 23.50. kira-kira segitu. Soalnya, pikiranku telah terlepas waktu itu, terbang tinggi dari ragaku  dan jatuh di kasur hangat dan bantal empuk di kostku.
          “ coba liat kebawah “ kata mas daril.
 “ jika di langit ada bintang” jawabku “ Sinar kerlap kerlip dari lampu di setiap bangunan itulah bintang di bumi ”.
sungguh indah. Dengan ketinggian jauh di atas pemukiman. Pemandangan kerlap kerlip di bawah itu sungguh memukauku. Lama aku mematung meski hawa dingin dan deru angin pegunungan menusuk-nusuk kulitku. Betapa semua ini mempunyai makna. Dan betapa indah dunia ini jika kita sedikit saja mau membuka hati.
setelah duduk sebentar di warung  yang kosong, yang tak digunakan, kami mulai memasang tenda di samping utaranya. Aku cuman ikut bantu-bantu aja sekaligus belajar. Karena sebelumnya aku belum pernah mendirikan tenda. Meski awalnya ada beberapa kesalahan, akhirnya jadi juga. Setelah menganti jumperku dengan sweeter kering dan celana basah yang banyak sakunya dengan celana futsal yang tipis plus sarung. Aku buru-buru masuk kedalam tenda. Setelah memakan biskuit yang di bawa mas sigit dan bercanda sebentar, Aku terdampar di alam gelap tanpa mimipi.

Bersambung...

Nb : insyaAllah, bisa saja aku menceritakan setiap detil perjalanan kami. Setiap detiknya. Bagaimana perasaan kami, setiap intrik yang hadir bersamaan dengan kabut yang semakin menebal dan waktu yang terus beranjak tanpa peduli, rasa lelah dan pegel-pegel yang memaksa  kami untuk sering berhenti di sepanjang perjalanan Dan pikiran aneh yang mengendap-ngendap di bagian paling gelap otakku yang selalu mengancam setiap saat. Tapi karena ingatanku waktu itu membeku kemudian menguap serta memikirkan kau yang membacanya mungkin akan sedikit bosan jika aku berlama-lama. Maka dengan profesionalitasku (hehehe) sebagai seorang yang ingin berbagi cerita, Aku mencoba menceritakannya semenarik, sepadat dan seindah mungkin.


Kami ke Blitar, malam dan truk melintang

Ok. Ceritanya aku mulai...

        Suatu hari di akhir Mei, pada setitik waktu yang berbaur dengan aroma sore yang cerah. cahaya mentari menyusup lembut pada sela-sela ranting pepohonan di pelataran kampus UIN Malang.
        “ ntar ikut ke rumahnya Tita ga’?
“ aku terserah saja, ikut teman-teman aja”
***
        “ ayo berangkat, baca do’a dulu “

       Dan dimulailah perjalananku dan yang lain menuju rumahnya mom Tita di blitar. Jam 20.** . aku dan yang lain. –Kurasa, aku tak perlu menyebutkan ‘yang lain’ itu, jika itu sudah ada aku maka ‘yang lain’ sudah tak perlu lagi disebutkan–hahaha.. Ya,,, ya,,, akan ku jelaskan. kami adalah sekumpulan anak malang yang berkelana hanya untuk mendapatkan makanan gratis, yaitu ; mas Batu selaku orang yang dituakan merupakan ketua kelompok ini, dia berboncengan dengan Mrs. Ifa. Aldhi selaku Guide karena membonceng mom Tita. ada si imut Ulir yang kesepian, dia sendirian, tidak punya teman ngobrol diperjalanan. Ada bolang dari kep. riau, Adam, berboncengan dengan Acin maulana, pengidap penyakit gila no. 13(read; obsesi artis). Lalu, Sulis si pinky berboncengan dengan difa kondang, ning Nafa. Dan aku sendiri, kau bolehlah bilang aku yang terdingin di kelompok ini, berboncengan dengan si semok, Aghe.

Aku dan Aghe memilih untuk berada di bagian paling belakang. Mengambil istilahnya Aghe ‘agar kami bisa menyisir mobil yang dari belakang’ dan menemani teman-teman yang ketinggalan. Anak yang sungguh suka sekali berbuat kebaikan. dan betapa heroicnya kami. Tapi, sebenarnya aku punya hasrat gelap sendiri :
aku tak suka sekali kebut-kebutan. Jadi, kalau kami ketinggalan di belakang, kami bisa tidur-tiduran dulu di pinggir jalan, nunggu yang lain jemput.
***
         Brrrrr. dengan pakaian seadanya -singglet plus jumper tipis-, aku lajukan motor membelah dinginnya angin malam yang menggigit kulitku. Ah, Andai saja yang dibelakangku bukan Aghe yang atletis dan sedikit homo ini, melainkan bidadari sekaligus kekasihku. Ceritanya mungkin akan sedikit berbeda, aku takkan mengggigil gini. aku akan begitu hangat. Betapa indahnya. Tapi ini, yang ada aku malah berjuang mati-matian agar Aghe tak memelukku. Hehehe. Bercanda. Sebenarnya, aku akan sangat senang sekali jika saja Aghe mau memelukku. Cueh, cueh, cueh.

           Jalur Malang-Blitar merupakan jalur yang mengasyikkan. Berkelok-kelok sekaligus terjal dan curam. Di kelilingi hutan lebat yang gelap dan suram. Tanpa rumah penduduk. Dengan keberanianku yang hanya seperti nyala lilin yang mau meredup, tentu saja ini membantu kelancaran kisah perjalananku. Ah, andai saja aku tak ikut. dengan anggun, aku pasti sudah sukses melukis bantalku.
        “ kalo siang mantep ini ron “ Aghe nyeletuk di belakang “masih alami banget, pemandangannya pasti keren, di bekasi, di kota gw, mana ada yang kaya’ gini ”
         “ he’em “ aku meng-iyakan ” apalagi klo pagi ato sore ghe, pasti lebih indah, cahaya matahari yang jatuh akan sangat lembut” membuat biasan orange pada daun-daun muda.
         ya, andai saja siang, tentu telapak tanganku takkan sedingin ini karena ngeri membayangkan ada pocong gila yang tiba-tiba saja melompat ke tengah jalan minta dilindes, agar paginya bisa masuk koran halaman depan. Mungkin saja dia akan menyaingi ketenaran saudara-saudaranya yang sudah masuk TV duluan. Keterlaluan bener. Sudah betapa kacaunya hidup ini. Moga-moga saja itu tidak terjadi.

       Beberapa puluh menit kemudian, jalan tetap saja gelap dan suram. Aku melaju perlahan mengikuti teman-teman dari belakang. dengan posisi : aku/Aghe – Adam/Acin – Sulis/Nafa – Ulir, mas batu/Ifa dan Aldhi/mom tita sudah tak berada pada radius penglihatanku.
         “ TIIIIIN! TIIIIIN! TIIIIIN! “ ku tengok kaca spion, ada cahaya terang dari belakang. dengan sigap, aku pinggirkan motor. mobil Truk itu Dengan ugal-ugalan menyalipku dan tanpa sopan santun mengambil tempat antara aku/Aghe dan Adam/Acin. Sedetik kemudian, Truk itu menyalip Adam/Acin. celakanya, saat Truk itu mau menyalip lagi, berbarengan dengan Sulis yang mau nyalip Ulir. Dengan tegang, aku saksikan Sulis sedikit lagi akan diserempet Truk. Seketika itu, waktu seakan berhenti. Dengan posisi yang sama, Kehidupan berjalan slow motion dengan suasana yang mencekam.
        “ TIIIIIN! TIIIIN! TIIIN ... TIIIIN! ” aku tersadarkan. sekilas aku lihat, sulis terkejut dan menoleh kebelakang tanpa memerhatikan keadannya yang berbahaya. suara klakson itu terus saja mendayu-dayu memecah kesunyian malam. Aku perhatikan tanganku. Bukan aku yang mencet. Aghe bukan. Hantu juga bukan. Lantas siapa? Setelah kucermati lagi. Ternyata sumber bunyinya dari depanku, Tapi aku juga masih belum bisa memastikan diantara ke-3 motor di depanku itu. Lalu, Sulis dengan sigap melajukan motornya meninggalkan bahaya yang sudah dari tadi menganga. Alhamdulillah. Terhindar juga dari bahaya.
Dengan sedkit marah, kulihat Truk itu melaju, Disusul truk yang dibelakangku, tapi setelah tak jauh melaju dari TKP tadi, ke-2 truk itu berhenti. Menghadang jalan kami. Ke-3 motor yang dikemudikan temanku itu terpepet kepinggir jalan sebelah kiri. Aku sendiri berada di belakangkiri truk yang hampir saja nyerempet Sulis tadi. Berada di bagian belakang. Meski masih ada cela untuk lewat, sontak kami semua berhenti.

       ‘apalagi ini?!’ batinku, aku mulai panik. Suasana mulai berbahaya. Aku tau, teman-teman pasti merasakan hal yang sama denganku. Ini pasti gara-gara yang tadi. supir truknya masih ingin melakukan perhitungan. *Kalo perhitungan kalkulus, dengan senang hati pasti akan kuladeni para supir itu, meski nilaiku pas-pasan*. Dari jauh, kulihat Acin -yang masih di atas jocknya- melakukan kontak dengan Supir truk satunya, kepalanya saja yang nyembul dari kacapintu yang terbuka.
“OPO KON!” bentaknya sambil mengayunkan kepalan tangannya di udara pada Acin dan Adam. Reflek Acin mengangkat tangannya seperti saat upacara senin pagi waktu bendera dikibarkan. Jadi ingin nyanyi lagu kebangsaan. Ah, fokus fokus.
        Ini benar-benar tak baik. Perkara ini takkan berahir dengan mudah. Eh, tiba-tiba saja ke-3 motor temenku itu melaju pergi tak peduli, pergi meninggalkan selubung pekat kabut malam, lalu disusul dengan keluarnya supir ‘truk yang hampir nyerempet Sulis’ dari pintu sebelah kanan. Dan tanpa baju. Bentar, kenapa juga supir itu keluar tanpa baju dalam udara malam yang dingin ini? Apa dia mau menggoda kami(aku dan aghe) dengan menunjukkan otot tubuhnya yang kekar itu? Maaf saja ya. Aku 100% normal, lelaki sejati. Jadi jangan coba-coba merayuku. Kalau Aghe, aku kurang tau. Mungkin saja dia mau.
kasar dia menutup pintu truknya dan berjalan ke arah kami(aku dan aghe) dengan penuh kesal. Sial, Aku benar-benar sudah tak bisa ngacir. aku merasa di khianati. Kami tertinggal bersama para penjagal. Kenapa teman-teman pergi? sedangkan masalah ini harus dibereskan. Dengan jengkel, aku jalankan motor pelan-pelan, berharap supir truk itu berhenti hanya untuk buang air kecil . tapi harapku tak terkabul, setelah bentar saja aku menjalankan motor, aku diberhentikan dengan kasar

*// “ SIAPA YANG MEMBUNYIKAN KLAKSON TADI? ” bentak supir tanpa baju.
“saya pak” dengan enteng dan penuh percaya diri aku menjawab.
   “ KENAPA KAU LAKUKAN!, ITU BERBAHAYA, ITU MEMBUAT ORANG LAIN TERKEJUT, TAK BENAR ITU ” bentaknya .
     “saya rasa itu wajar saja” aku katakan dengan tenang “kalo tidak ada klakson, mungkin saja bapak tetap melaju, dan nyerempet teman kami”
    “benar pak, soalnya gini ya” lanjut Aghe dengan logat seperti biasanya ”dalam keadaan seperti itu, memencet klakson merupakan cara yang sewajarnya untuk memberi sinyal bahaya” *
   sontak ekspresi supir tanpa baju tambah garang “KURANG AJAR, KALIAN MAU MENGGURUIKU YA, DASAR MASIH BAU KENCUR ” ludahnya moncrat-moncrat tak karuan
   “J**C$%” supir yang satunya ikut bergabung sambil membawa batang pohon, berbarengan dengan itu, dia melayangkan tendangannya ke motor.
   “GEDUBRAAAK!” debum jatuhku+Aghe+motor. Brengsek. sedetik kemudian, dengan susah payah aku dan Aghe berdiri memasang kuda-kuda siap tempur. lalu, tanpa aba-aba.
   “HYAAAAAAA! HYAAAAAAAAAA!” @#$$&!*$%^&!....
                             *15 menit kemudian, aku kira-kira*.

      “BRMM! BRMMM!” deru knalpot Truk menjauh dari pendengaranku. Setelah sekian menit melakukan perlawanan, ahirnya kami terkapar juga di pinggir jalan. Pakaian kami robek-robek, kami tambah tampan dengan lebam-lebam di muka. Tulang rusukku ada beberapa yang patah, dan dinginnya malam menambah sakitnya luka-lukaku. aku dan Aghe tak mampu lagi berdiri.
mau ngapain dia?. Dengan susah payah, Aghe mencoba menggeser tubuhnya. Oh, ternyata dia mau meraih hp-nya yang tergeletak tak jauh dari tubuhnya. Benar juga, kami harus menghubungi teman-teman. Aku raba-raba kantong celanaku. Hp-ku tak ada. Kutebarkan pandanganku. Tak kutemui juga hp-ku, Ahirnya aku merangsek mendekati Aghe. Dia sudah berlutut dan memencet-mencet keypad hp-nya. Benar ghe, beritau teman-teman. Tapi,,, Mulutku spontan ternganga melihat apa yang diketik Aghe. Mungkin sedikit berbusa. Tulisannya ;
        “Iza, maafkan aku... aku tak bisa membuatmu bahagia” send message. Jasek, gila’. aku shock berat. oh, dunia seakan berputar-putar. Kemudian aku terjatuh, mulai tak sadarkan diri. Sayup-sayup aku mendengar suara Aghe memecah kesunyian malam.
        “GUSTI, KENAPA INI TERJADI PADAKU? APA SALAHKU?!” ratapnya mendramatisir, lalu dia terjatuh seperti saat baca puisi di pentas tiang alit kemarin. Aku sendiri sudah tak kuat lagi menahan kesadaranku. Lalu gelap.

bercanda. hahaha. ceritanya kaya’ gini, mulai dari * ;
       sontak ekspresi supir tanpa baju langsung berubah “ah, benar juga ya” sambil manggut-manggut, dia berpikir sejenak.
           baiklah, kalian boleh lewat” lanjut pak supir tanpa baju sumrigah.
“ok dech” jawabku dan Aghe kompak, kemudian kami pergi sambil saling melambaikan tangan.
//* kalian tertipu lagi, dibawah ini baru cerita aslinya, benar-benar cerita aslinya;
NB ; yang mencet klakson adalah Adam. Alasannya yang di atas tadi itu. Dialog aku emudian Aghe. Dia benar-benar trauma setelah mengalami kecelakaan karena disrempet dari belakang. dan dia tak ingin hal yang sama terjadi pada yang lain.
// ok. back to scene

        “SIAPA YANG MEMBUNYIKAN KLAKSON TADI?” bentak supir tanpa baju.
“ bukan saya pak “ jawabku, berharap bisa langsung diperbolehkan lewat.
      “ITU BERBAHAYA, ITU MEMBUAT ORANG LAIN TERKEJUT, TAK BENAR ITU” bentaknya lagi. aku tidak begitu ingat, tapi setidaknya ini inti omongannya. Ah, kacau. Ini benar-benar takkan berahir mudah. Dia sepertinya memang sudah berniat cari perkara.
       “benar pak, bukan saya” kilahku lagi. Lalu, kulihat supir truk yang satunya lagi keluar dan dengan cepat mematahkan cabang pohon seukuran tangan yang ada di pinggir jalan. Mau apa dia?.
       “ BLA!... BLA!... BLA!.....“ perhatianku teralihkan lagi sama pak supir tanpa baju. aku tak begitu ingat apa yang dia semprotkan. Intinya, kami diberi tausiyah, oleh pembicara yang berlebihan semangat. Ini mengalahkan paling semangatnya khotib jum’at. Lumayan lama, tapi semprotannya waktu itu mengabur dalam ingatanku.
       “ya udah, kami minta maaf pak“ aku tak ingin berlama-lama disini. Teman-teman pasti sudah jauh. aku tak ingin tersesat padahal aku tak tau jalan di daerah sini. Secepatnya, aku harus nyusul teman-teman. Dan yang lebih penting, aku tak ingin mati konyol disini.
      “sorry pak, sorry“ aghe nambahin. mencoba diplomatis. Anak yang suka politik ini pemikirannya pasti sama denganku saat ini, kami sama tak ingin berlama-lama disini.
        “ YO WES, GA’ APA-APA ” masih dengan nada yang lumayan tinggi “LEWAT AJA“.

       Eh, beneran? tak ada apa-apa lagi ni?!. Untunglah, tak ada hal gawat yang terjadi. Ah, tapi... bapak yang tadi matahin cabang pohon berjalan ke arah kami, plus tangan memegang cabang pohon yang sudah bersih dari segala ranting dan daunnya. Seketika itu pertanyaanku terjawab. Ternyata cabang pohon itu dia patahin sebagai alat untuk ngebukin kami. Kacau, tamat sudah. Kalo g’ sekarat, paling-paling ada beberapa tulangku yang patah setelah ini.
    “BLA!.... BLA!.... BLA!....“ bentak pak cabang pohon sambil bersiap-siap mengayunkan ‘balok’nya. Kata ‘balok’ngambil dari istilahnya aghe. Benar memang, cabang pohonnya mirip balok yang sering digunakan dalam tauran di film-film, atau lebih gede dikit.
     
“BIARKAN MEREKA LEWAT“ kata supir tanpa baju “BUKAN MEREKA”
“KENAPA KALIAN MEMBUNYIKAN KLAKSON SEPERTI ITU.... BLA..BLA... BLA...” bentak supir cabang pohon lagi. Inti semprotannya sama dengan supir tanpa baju.
      “SUDAH, BIARKAN MEREKA LEWAT” kata supir tanpa baju lagi. Kami diperbolehkan lewat.
betapa baiknya kau pak supir, meski tadi sudah membentak-bentak kami, dengan senang hati aku ikhlaskan.
      “mari pak” . manisnya, kemudian kami pergi dengan tubuh tidak kurang satupun. Sebenarnya, masih ada pertanyaan yang masih menjanggal dalam kepalaku waktu itu. Kenapa mereka langsung percaya aja bahwa bukan kami pelakunya? Padahal, ku kira mereka pasti ingin melampiaskan kemarahan. Tapi ya udahlah, yang penting kami selamat.

      Ku maksimalkan kecepatan motor. Aku kesal. Setelah lumayan jauh melaju, ku jumpai rombongan teman-temanku. Ulir menungguku. Yang lain menjalankan motornya pelan-pelan.
“ gimana ron?” tanyanya.
       “ g’ apa-apa” jawabku serempak ma Aghe. Kami balik lagi ke rombongan. Seperti tak ada masalah, kami semua melaju beriringan seperti semula.
       ternyata kedamaian ini tak bertaahan lama. Ke-2 truk tadi melaju kencang dari arah belakang. dengan ugal-agalan yang sama, mereka menyalip kami semua. Motor teman-teman di depan seolah-olah dipepet ke pinggir. Sial, masih belum beres juga ternyata. Tak lama kemudian, Mereka melaju di depan kami. Aku pikir mereka masih ingin melakukan perhitungan. Benar saja, Setelah belokan selanjutnya, tiba-tiba supir tanpa baju melintangkan truknya menutupi jalan. Hampir saja menabrak motor yang datang dari arah lain. Aldhi yang berada tepat di belakangnya, oleng ke kiri. reflek Mom Tita turun dari motor. Dengan boncengan perempuannya mudah baginya turun dari motor. Keadaannya semakin tak beres.teman-teman yang lain pasti merasakan hal yang sama denganku. Kalo bentrok, bisa gawat ini. Ku lajukan motorku mendatangi Aldhi yang sejenak berhenti. Sekilas kulihat pengemudi motor dan temannya yang tadi hampir di tabrak, pergi dengan muka pucat ketakutan setelah dimarahi habis-habisan sama supir tanpa baju.
         “ ada apa Al?”
“ g’ ada” jawabnya tenang “ cuman truk itu hampir saja nabrak motor”
       o, gitu. Berarti bukan ingin cari gara-gara dengan kami. Bodohnya, Aku lansung saja percaya saat itu. Aku kira Aldhi sudah tau masalah yang tadi, teryata masih belum. Dia malah mengira space kecil (sela-sela bagian belakang truk dengan pinggir jalan), di sisakan agar motor bisa lewat(betapa positif pemikirannya). yang sebenarnya,space itu luput dari hadangan si supir. Ya, Aldhi/mom Tita dan mas Batu/Ifa masih belum tau masalah tadi. **

“BEDEBAH, SIAPA YANG YANG TADI MENCET KLAKSON TANPA ATURAN” setelah puas memarahi pengendara motor tadi habis-habisan. sekarang tiba giliran kami. Kami semua telah turun dari motor. Siap-siap melancarkan serangan jika diperlukan. Mas Batu dan Aldhi telah kami beri tau.
“JAWAB!, SIAPA YANG TLAH BOSEN HIDUP?!” raungnya seperti singa yang kelaparan. Temannya juga sudah tak sabar. Dia memutar-mutar baloknya di udara. tapi kami semua hanya diam. Menunggu kesempatan datang. Kemudian,,, alam menjadi sunyi seketika. Awan menutupi cahaya bulan perlahan. Kabut mulai menebal menyelubungi arena di sekitar kami. Suasana benar-benar mencekam dan menegangkan... semenit tlah berlalu. Lalu, tak terduga, si supir tanpa baju menerjang ke arah kami.
“HYYYAAAAAAAA!”... seperti kelebatan bayangan, Aghe maju ke depan. Siap-siap melancarkan jurus. Dengan latihan berat yang sering dilakukannya, akan dengan mudah dia melumpuhkan si supir. Dia meninju langit, kemudian secepat kilat dia mengeluarkan senjata pamungkasnya, menunjukkan se pack kartu REMI di depan muka si supir. Persis seperti agen FBI menunjukkan lencananya.
“ok, kami terima tantangan bapak” jawab kami semua mantep “permainan apa yang bapak inginkan?”.
”POKER” dengan tak sabar supir tanpa baju menjawab “AKU SERING MEMAINKANNYA DI WARUNG”.
“ okelah klo begitu”. Setelahnya. Kami main kartu di tengah jalan. Para pengendara lain yang tak tahan melihat kami main, ahirnya luluh juga. Lalu bersama-sama bikin majlis baru main kartu. Tapi, supir yang satunya tak mau ikut bermain. Saat kami telah memainkan beberapa babak. Ketika asyik-asyiknya bermain. Dia dengan garang menghampiri kami.
“BRENGSEK, HEI KAU!” dengan amarah yang tak mungkin di tahan lagi, dia menunjuk Adam ”kau itu sering kalah, ayo ganti” dengan ikhlas Adam menyerahkan tempat duduknya.
“iya dek. Ada yang bawa rokok g?” dia nyeletuk kemudian, malu-malu.
“oo, ada pak” cepat-cepat mas Batu mengeluarkan sebungkus rokoknya.
“nah, kalo ada ini baru mantep. Hehe”. Kami lalui malam itu main kartu sampai shubuh.

*// ckakakakak.Back to scene dari tanda ini **.
         Karena ribut oleh klakson mobil dan motor yang lain, ahirnya para supir truk itu menyerah. Mereka pergi mengurungkan niat, melaju kencang meninggalkan kami. Kami pun pergi. saat mendapati warung, kami berhenti sejenak agar para truk itu kehilangan jejak.

To be continued.....
NB ; tulisan yang bercetak tebal itu cuman guyonan, bukan yang asli. klo mau baca versi aslinya, yg tulisan bercetak tebal itu g usah di baca, di loncat aja .aku ucapkan terima kasih pada teman seperjalan di atas. terima kasih juga atas ide-ide kalian. Tanpa kalian, cerita ini takkan ada. Hahaha. Ku tuliskan cerita ini hanya untuk membuat pembaca tertawa. Khususnya kau yang di situ. ckakakakakak.










Aku adalah gelap

          Aku menyukai saat mentari turun perlahan di penghujung sore yang cerah, pada rintik-rintik hujan yang jatuh pada genangan air yang tenang, aroma basah di musim yang lembab, pada merah merekah saat fajar datang. Meski aku tak begitu suka pada terang, aku begitu mengagumi bulan. Dari balik rindang pepohonan, aku selalu mencoba menatapnya, penuh dengan keindahan. Aku suka saat dia tersenyum. Tapi seperti halnya dalam drama yang berahir menyedihkan, kami adalah takdir yang tak mungkin dipersatukan. Dia begitu berkilau dan begitu jauh.
          pada malam, kehadiranku begitu nyata. Malam yang sunyi dan tenang. Meski aku mencekam dan hitam, Perlu kalian tau, tak sedikitpun aku sama dengan kejahatan, memang, aku sering dijadikan tempat oleh orang tak bermoral untuk melakukan kejahatan.
- ingin aku mengalirkan darah dari tubuh para gembel itu-. Tapi jika itu alasan kalian, dalam kehidupan sekarang ini, teranglah yang harus lebih disamakan dengan kejahatan. Kau tentu lebih paham dari aku. Bukankah para ‘elite’ itu melakukan aksinya pada ruangan terang benderang, pada kursi yang empuk dan ruangan ber-AC, Sedangkan aku malah kebagian lorong-lorong sempit. Tapi biarlah, berkatalah sesuka hati tentang diriku, Akan ku anggap itu sebagai hadiah kehidupan.
Dimensi Tak Hingga © 2014